2ride7 Jakarta – Lombok : (Cerita) Mistis Di Tengah Caldera Gunung Bromo

Posted: May 24, 2012 in Motor, Petualangan, Touring
Tags: , , , , ,

Touring seringkali dilakukan di malam hari. Sepinya kondisi lalu lintas dan menghindari terik matahari seringkali menjadi alasan, mengapa seorang rider melakukan perjalanan jauh di malam hari. Apalagi karena mengejar target perjalanan, maka mau tak mau sang rider harus melakukan perjalanan malam apapun kondisi jalan yang akan dihadapi. Namun seringkali dalam melakukan perjalanan malam ini, sang rider menerima berbagai masalah. Mulai dari sulitnya meminta bantuan saat menggalami trouble dengan motornya, mengalami tindakan kejahatan bahkan mengalami kejadian mistis seperti yang penulis alami dalam perjalanan ke Bromo beberapa waktu yang lalu. Berikut ceritanya :

Camping di tengah Caldera Gunung Bromo

Camping di tengah Caldera Gunung Bromo

Perjalanan Malam Menembus Caldera Bromo

Dalam rangkaian perjalanan 2Ride7 ke daerah gunung Bromo – Jawa timur, penulis harus melakukan perjalanan larut malam karena harus beramah tamah dengan banyak komunitas otomotif di kota malang. Akhirnya setelah acara ceremonial selesai, penulis bersama partner 2Ride7 (Bro Andry), serta bro Eddy (Cartenz Indonesia cabang Malang) dan Bro Kacung (Kaskus FR2 community Malang) memulai perjalanan menuju gunung Bromo sekitar jam 23.30 WIB.

Ya, memang sudah sangat larut malam untuk memulai perjalanan. Tapi menurut bro Eddy yang menjadi guide tim 2Ride7 ke gunung Bromo, perjalanan malam ke lokasi ini sudah sering dilakukan karena akan lebih nyaman, karena jalanan lebih sepi serta tidak panas. Penulis mempercayai alasan bro Eddy melakukan perjalanan malam karena selain terkenal sebagai pecinta alam lokal, bro Eddy juga sudah sering melakukan perjalanan serupa ke lokasi ini dalam rangka mengantar tamu-tamu dari luar kota.

Jalan yang harus dilalui dengan latar belakang bukit 'teletubies' yang seharusnya jadi lokasi camping

Jalan yang harus dilalui dengan latar belakang bukit ‘teletubies’ yang seharusnya jadi lokasi camping

Maka kami pun beriringan keluar kota Malang menuju jalur Tumpang. Jalur ini cukup terkenal di kalangan pecinta petualangan sebagai jalur neraka menuju kawasan wisata gunung Bromo. Selain karena sulitnya medan dan masih jeleknya kondisi infrastruktur, juga harus melalui jalur-jalur yang masih sepi. Sebenarnya masih ada jalur lain yang relatif mudah dan ramai, yaitu melalui Probolinggo. Namun untuk melaluinya harus mengadakan perjalanan memutar yang cukup jauh. Namun jika melalui jalur Tumpang ini, kita bisa menghemat waktu konon setengahnya.

Seperti yang penulis duga sebelumnya, perjalanan menuju gunung Bromo berlangsung sulit dan menegangkan. Gelapnya malam, kondisi penerangan jalan yang sangat minim, jalan yang jelek dan licin, serta tentu saja sepi menjadi bagian dari perjalanan ini. Menegangkan tapi menggairahkan. Adrenalin mengalir kencang menyebabkan panca indra kami semua menjadi lebih peka 2 kali lipat. Beberapa kali penulis menyalakan lampu tembak penulis untuk menerangi jalanan. Dari keempat peserta riding, memang hanya penulis yang memasangnya. Beberapa kali belokan tajam harus dilalui. Jalanan benar-benar licin karena banyaknya pasir dan longsoran tanah. Belum termasuk jalanan yang menyempit dan adanya jurang di kedua sisi jalanan harus kami hadapi.

Kebetulan, penulis dan bro Andry menggunakan interphone di helm KYT cross-over masing-masing. Alat komunikasi 2 arah ini benar-benar membantu kami berkoordinasi. Oleh karenanya kami mengatur agar kami berada di tengah group riding. Andry di urutan ke dua sedangkan penulis berada di urutan paling buncit. Selain berkoordinasi, seringkali dalam interphone, kami bercanda sekedar menghilangkan kebosanan. Tapi dalam perjalanan malan itu, penulis mengingatkan agar dia menahan omongan yang tidak perlu.

Riding dengan latar belakang bukit 'Teletubies'

Riding dengan latar belakang bukit ‘Teletubies’

Pesta Mistis di Tengah Hutan

Mencapai puncak jalan dimana terletak sebuah pos pengamat, hawa dingin sudah sangat menusuk tulang. Dari titik itu, kami harus melalui jalanan yang tersulit yaitu jalan yang tajam, sempit, gelap dan licin yang harus dilalui bergiliran satu persatu. Jalanan ini sangat panjang dan rasanya tiada akhir. Harus melalui rapatnya pepohonan di kiri kanan jalanan atau bahkan jurang curam yang gelap. Penulis yang berada di urutan terakhir beberapa kali melirik ke kaca spion. Gelap total di belakang penulis!

Saat semua panca indra penulis terkonsentrasi untuk menuruni turunan tajam itu, tiba-tiba telinga penulis merasakan sebuah keanehan. Samar-samar terdengar suara obrolan ibu-ibu, celoteh jenaka anak-anak dan suara gamelan khas gending jawa. Suara-suara itu seperti yang kita dengar jika ada keramaian menjelang sebuah pesta. Sejenak penulis tertegun dan secara spontan bulu kuduk penulis meremang. Begitu tersadar, penulis segera melafalkan ayat-ayat suci Al Quran secara spontan.

“Ada apa bro?” Tanya Andry ke penulis via interphone ketika dia mendengar penulis mengucapkan ayat – ayat suci Al-Quran yang langsung terdengar via interphone yang terpasang di helmnya. Penulis tidak menjawab pertanyaan itu dan tetap focus berdoa sambil juga memperhatikan kondisi jalanan yang menurun dan gelap. Andry entah maklum atau ikut berdoa karena suaranya sudah tidak terdengar lagi. Tak beberapa lama kemudian, bunyi-bunyian itu pun hilang begitu saja seperti saat munculnya.

Suasana hening setelah itu. Yang terdengar hanyalah suara deru mesin motor serta suara binatang malam. Alhamdulillah, tak beberapa lama kemudian, kami pun sampai ditujuan camping meskipun tidak menemui lokasi yang diinginkan oleh Bro Eddy karena gelapnya lokasi.

Saat besoknya kami terbangun, kami berada di tengah-tengah semak belukar didalam caldera gunung Bromo. Jauh melebihi lokasi camping yang diinginkan oleh bro eddy yaitu mendirikan tenda di tengah-tengah bukit yang subur dengan rerumputan. Bukit itu dinamakan bukit “teletubies” oleh para pendaki gunung Bromo.

Caldera Gunung Bromo dilihat dari Ketinggian

Caldera Gunung Bromo dilihat dari Ketinggian

Dalam perjalan pulang setelah perjalanan ke arah jalan masuk gunung Bromo, kami harus melalui jalan yang sama saat kami melaluinya tadi malam. Kami baru menyadari bahwa waktu pulang ke arah Tumpang jauh lebih lama dibanding saat kami melaluinya tadi malam. Sebuah keanehan yang sama-sama kami sadari.

Penulis tidak menceritakan masalah suara menjelang pesta itu kepada yang lain terkecuali saat kami sudah sampai kembali ke kota Malang. Saat penulis menceritakan hal itu ke Bro Eddy, dia menampakkan wajah bingung. Saat penulis menceritakan hal itu ke bro Rio, ketua Skydrive Community Malang (SCM) yang menyambangi kami, dia bilang itu memang sering didengar oleh para petualang yang melalui daerah itu. Ada dua kemungkinan kata bro Rio, itu sebagai pertanda kita akan mengalami kecelakaan atau kita justru dibantu dengan kemudahan.

Terlepas benar tidaknya hal di atas, Penulis bersyukur bahwa kemudahan lah yang kami dapat, yaitu cepatnya kami bisa melalui perjalanan berangkat dibandingkan saat pulangnya. Semoga setiap petualang yang melalui jalan itu diberi kemudahan yang sama. Berdoa lah kepada Tuhan Yang Maha Kuasa sebelum memulai perjalanan, agar kita bisaa selamat sampai tujuan. Amin.

Powered by Telkomsel BlackBerry®

Comments
  1. andry says:

    wow… keren tour bromo dengan Riding the Bike😀

  2. kok yg nongol nm samaranku om???
    aheheheheheee…

  3. ralat kang ONE..
    ntu Bro Kacung bkn dari F2R community Malang tapi dari kaskus FR2 community malang🙂

    *andry belom keramas kali tuh jadi digangguin😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s