Adventouride 2 : Ride To The Harmony, Touring Teluk Kiluan – Lampung Selatan #3 of 4

Posted: July 18, 2011 in Petualangan, Touring
Tags: , , , , ,

Para petualang Adventouride 2 sampai di Teluk Killuan dengan selamat pada tanggal 14 Mei 2011. Tapi perjalanan belum berakhir. Para petualang masih harus melanjutkan perjalanan ke Pulau Kelapa untuk menginap disana. Berikut ini adalah catatan perjalanannya.

Pulau Kelapa, Teluk Kiluan. 14-15 Mei 2011

Ombak kecil menghempas dedaunan di pasir putih Teluk Kiluan. Matahari masih cukup terik di atas kepala. Pohon-pohon kelapa yang melambai-lambai diantara rumah para nelayan, mengantar sembilan orang petualang dari KHCC (Karisma Honda Cyber Community) yang sedang menaiki speed boat menuju sebuah pulau yang terlihat di depan mata. Sedangkan motor-motor yang kami pakai kami tinggalkan dan kami titipkan dengan keadaan terkunci dengan aman di warung yang juga berfungsi sebagai rumah penitipan.

Sejak kemarin malam, kami melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bakaheuni dan dilanjutkan ke Bandar Lampung. Selanjutnya kami berjuang menyusuri jalanan yang 70% nya rusak untuk mencapai desa tempat kami sekarang berada, Desa Kiluan – Lampung Selatan (cerita sebelumnya dapat dibaca di sini). Karena penginapan yang akan kami tempati berada di sebuah pulau yang terletak di mulut Teluk Kiluan, maka kami harus menaiki speed boat untuk menuju ke sana.

Naik speed boat beramai-ramai, menuju Pulau Kelapa

Naik speed boat beramai-ramai, menuju Pulau

 

Heading to Pulau Kelapa - Teluk Kiluan

Heading to Pulau Kelapa - Teluk Kiluan

Saat menaiki speed boat, terlihat sesuatu yang unik. Jika para backpacker biasanya berbekal ransel, maka para rider KHCC membawa rear box atau side box motor mereka masing-masing seperti layaknya koper :D…..pemandangan yang kocak! Tapi memang itu paling praktis buat mereka. Penulis sendiri hanya membawa tank bag merk 7gear yang memang dari awal sudah disiapkan hanya membawa peralatan pribadi. Sedangkan peralatan motor diletakkan di rear box & ditinggalkan di motor.

Sebuah Pulau karang kecil di samping Pulau Kelapa

Sebuah Pulau karang kecil di samping Pulau Kelapa

Speed boat yang sarat dengan penumpang ini pun berangkat membelah laut yang berombak kecil dan berair sangat jernih. Hanya membutuhkan waktu 10 menit, speed boat yang kami tumpangi menyentuh bibir pantai pulau kecil yang terletak persis di tengah-tengah teluk Kiluan. Pulau ini bernama Pulau Kelapa. Tak ada dermaga di pulau itu sehingga kaki kami harus menginjak pasir yang halus dan air laut saat kami turun dari speed boat. Pulau dengan pasir putih yang bersih dan air yang jernih ini masih cukup terjaga keasriannya. Beberapa perahu tradisional yang bercadik tampak berlabuh di bibir pantai. Pepohonan pun cukup rapat di seluruh pulau. Di beberapa tempat, pantai pasir tergantikan batu karang yang kokoh. Di sisi lain pulau, pantainya langsung berhadapan dengan Samudera Hindia. Tidak ada lagi daratan di seberang sana kecuali benua Antartika jauh di kutub selatan. Tak heran di sisi yang berhadapan dengan Samudra Hindia, ombaknya pun jauh lebih besar. Saat kami berbalik dan menatap daratan pulau Sumatera yang dibatasi oleh teluk, kami melihat barisan bukit tinggi di Desa Kiluan serta turunan jalan beton yang kami lalui tadi siang…….luar biasa indahnya!

Tiba di pulau Kelapa - Teluk Kiluan

Tiba di pulau Kelapa - Teluk Kiluan

 

Rumah Panggung tempat menginap rombongan di Pulau Kelapa

Rumah Panggung tempat menginap rombongan di Pulau Kelapa

Di pulau Kelapa, beberapa bangunan kayu terlihat didirikan tak jauh dari bibir pantai. Beberapa tenda sederhana juga tampak dipasang di bawah pepohonan, memberikan alternatif tempat menginap untuk pengunjung. Agak ke dalam, rumah panggung panjang yang terbuat dari kayu terlihat dengan balkon untuk duduk-duduk. Itulah bangunan tempat kami menginap nanti. Pulau Kelapa ini merupakan satu dari beberapa tempat yang mengelola wisata bahari di Teluk Kiluan. Pengelola Pulau Kelapa saat ini adalah Pak Dirham. Kami mengenalnya berdasarkan informasi dari para petualang yang telah datang sebelumnya.

Saatnya berbasah-basahan.....

Saatnya berbasah-basahan.....

Tak ingin membuang momentum yang ada, segera setelah kami menyimpan peralatan di dua kamar yang kami sewa. kami langsung berlari dan langsung nyebur di pantai yang berair jernih. Huahh…!!! segarnya!!! Bro Ableh yang badannya paling subur diantara kami langsung menjadi bulan-bulanan. Diguling-guling seperti layaknya ikan paus terdampar, lalu dikubur pasir beramai-ramai dan terakhir celananya mau diperosotin…..tapi memang tuh anak berhati baja, mulutnya selalu nyengir tanda hatinya riang gembira😀. Sedangkan sist Fay yang satu-satunya wanita terlihat bakat narsisnya. Semua gaya tak luput dari camera mininya. Penulis dan Bro Anto iseng-iseng buat istana pasir meskipun selalu buyar tersapu ombak. Sedangkan Bro Dee-J, Bro Taufik dan Bro Dagienk ketularan narsis dengan camera anti airnya….

Segarnya air laut di Teluk Kiluan

Segarnya air laut di Teluk Kiluan

 

Mengubur ikan paus terdampar a.k.a. Bro Ableh

Mengubur ikan paus terdampar a.k.a. Bro Ableh

Berbeda dengan Pulau Peucang di Ujung Kulon atau Pulau Bidadari di Kepulauan Seribu yang pernah penulis sambangi, disini tak terlihat ikan-ikan kecil berenang di tepian. Mungkin disini sudah terlalu banyak manusia sehingga mereka pun enggan lagi berenang hingga tepian pantai. Tapi itu semua tak mengurangi keasyikan kami bermain-main. Kami semua bermain air dan pasir seperti layaknya anak kecil, kecuali Bro Ecko ‘Nasduk’ yang gosipnya dilarang sang ibu berenang di laut. “Nanti kesaktian gua luntur” kilah Bro Ecko saat penulis tanya😀. Alasan yang mengada-ngada!

Bikin istana pasir juga OK

Bikin istana pasir juga OK

 

Nikmatnya mengambang di perairan teluk kiluan yang tenang

Nikmatnya mengambang di perairan teluk kiluan yang tenang

Malam datang begitu cepat. Suara genset sebagai sumber catu daya satu-satunya di pulau ini terdengar cukup keras di tengah-tengah suara binatang malam. Luar biasa gelap di pulau itu meskipun beberapa lampu TL dipasang di jalan setapak. Membawa senter di pulau ini adalah sebuah keharusan dan tak lupa, obat oles anti nyamuk! Setelah makan makanan malam yang sederhana, penulis dengan cepat tertidur. Rasanya badan terasa capek sehingga penulis memutuskan segera istirahat. Besok Minggu, kami memutuskan langsung pulang ke Jakarta karena beberapa teman ternyata harus masuk kerja hari Senin nya. Wadeeuhhh!!!

Jam 04.05 pagi, penulis bangun. Di sekeliling penulis terlihat beberapa teman masih terlelap dalam tidurnya masing-masing. Entah jam berapa mereka tadi malam tidur karena penulis tidur lebih awal. Tiba-tiba perut mulai tidak nyaman. Wah…ini ‘panggilan alam’ yang biasanya memang terasa pagi-pagi. Tapi entah kenapa ini rasanya berbeda. Sempat terpikir makan malam yang tadi malam dimakan kurang higienis. Tapi yang terpenting sekarang mencari jamban. Di pulau kelapa ini, disediakan jamban umum untuk mandi dan buang air besar yang terpisah tempatnya. Sebuah sumur yang berair payau menjadi andalan pengelola untuk masalah suplay air bersih. Namun karena jumlah jamban yang terbatas, kami harus antri untuk memakainya. Untuk harga per kamar Rp. 150 ribu per malam, cukuplah kami puas dengan fasilitas yang ada.

Perahu Tradisional nelayan Teluk Kiluan

Perahu Tradisional nelayan Teluk Kiluan

Matahari terus meninggi. Penulis sudah tak sabar lagi menunggu langit terang. Pagi ini, penulis akan melihat ikan lumba-lumba. Jika biasanya ikan lumba-lumba dilihat di penangkaran, kali ini penulis akan melihatnya langsung di laut lepas. Melihat langsung ikan lumba-lumba di habitat aslinya adalah salah satu andalan wisata bahari di Teluk Kiluan. Dengan merogoh kocek tambahan sebesar Rp. 250 ribu per perahu, pelancong bisa melihat rombongan ikan lumba-lumba. Perahu yang digunakan adalah perahu nelayan tradisional yang terbuat dari dari kayu yang dipasangi cadik sebagai penyeimbang serta ditempeli motor bensin. Satu kapal bisa memuat 3 orang penumpang plus 1 nelayan sebagai pengemudinya.

Di pantai, terlihat kesibukan para nelayan mempersiapkan perahunya masing-masing. Sebagian perahu tampak sudah berisi tiga orang penumpang berpelampung warna orange yang terlihat bersemangat. Penulis pun rasanya ikut tertulari semangat mereka. Sebagian besar membawa camera yang canggih untuk mengabadikan rombongan ikan lumba-lumba. Dari 9 orang peserta touring Adventouride, hanya 3 orang yang akan ikut menyaksikan lumba-lumba di habitat aslinya. Mereka adalah Bro Anto, Bro Dagienk dan penulis sendiri.

Berbekal camera digital masing-masing satu, kami beranjak ke arah pantai. Rupanya kami termasuk rombongan terakhir yang akan berangkat, karena pantai sudah sepi. Sebelum naik perahu kami mencari-cari pelampung untuk kami kenakan…..apa dikata, ternyata hanya satu pelampung yang tersedia. Bagaimana ini?

“Gimana nih? Mau tetap jalan tanpa pelampung?” tanya penulis ke Bro Anto & Dagienk yang termanggu-manggu melihat 1 pelampung yang tersisa. Seakan-akan bingung memilih antara tetap melihat lumba-lumba tanpa pelampung atau tidak jadi ikut. 

“Terserah elo aja kang One!” kata Dagienk yang bekerja di salah satu operator Outbond di Jakarta.

“Gue sih tetep jalan. Tanggung nih udah sampe sini engga lihat lumba-lumba” jawab penulis.

“Ya udah ne, kita jalan!” ajak Anto akhirnya antusias.

“Loe pake pelampungnya ya gienk!” kata penulis memutuskan. Dagienk merupakan anggota termuda dari kami bertiga. Mudah-mudahan selama perjalanan tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, karena dengan kemampuan berenang penulis yang pas-pasan, rasanya sulit berenang mencapai tepian dengan ombak di laut lepas yang terkenal bergelombang besar.

Menuju Laut Lepas.....

Menuju Laut Lepas.....

 

Maka akhirnya kami menaiki perahu tanpa menggunakan pelampung lengkap. Cukup nekad memang mengingat laut yang akan kami datangi adalah laut lepas. Beberapa teman melepas kami di pantai ketika perahu yang kami tumpangi beranjak ke arah selatan. Haluan perahu mengiris air dengan anggun diselingi suara mesin motor di bagian belakang. Laut lepas ada di hadapan kami. Udara pantai yang segar terasa mengisi rongga dada. Di sebelah kiri terlihat satu pulau yang cukup besar. Namun pulau ini tidak berpenghuni karena pulau ini pulau batu karang meskipun cukup rimbun oleh pepohonan. Di sebelah kanan perbukitan daratan pulau Sumatera terlihat kokoh. Awalnya matahari masih berada dibalik bukit itu, tapi tak lama kemudian matahari mulai muncul dan membuat efek warna lembayung di air laut yang luar biasa indah dan menakjubkan. Inilah ‘sunrise’ yang sesungguhnya!

Sunrise di balik bukit pulau andalas

Sunrise di balik bukit pulau andalas

Perahu kecil kami terus melaju membelah laut, sedikit demi sedikit pulau karang dan daratan Sumatera mulai terlihat menjauh. Tak terlihat perahu-perahu nelayan di sekitar kami. Mulanya ombak masih cukup tenang, namun lama kelamaan ombak mulai bergelombang naik turun mengombang-ambing perahu kecil kami. Untungnya perahu ini bercadik sehingga rasanya cukup stabil mengimbangi naik turunnya gelombang. Tapi tak urung hal ini membuat dag dig dug jantung kami bertiga. Di kejauhan, gumpalan awan kelabu terlihat maju ke arah kami. Penulis mulai gelisah. Kami sebagai orang daratan tidak tahu apakah awan ini awan hujan badai atau bagaimana? Amankah berperahu menyongsong awan itu? Apalagi dengan kondisi tidak berlampung seperti kami? Awan kelabu itu tampaknya awan hujan karena tak lama kemudian pelangi terbentuk disana akibat bias sinar matahari di belakang kami. Indah sekali. Mungkin jika saat itu kami menggunakan perahu yang lebih besar dan menggunakan pelampung, kami tentu akan menikmati pemandangan indah ini.

Awan mendung di tengah laut

Awan mendung di tengah laut

Tiba-tiba satu perahu berpenumpang 4 orang yang masing-masing berpelampung nampak mulai terlihat melaju dari arah belakang kami. Alhamdulillah, lega rasanya melihat ada teman di tengah laut seperti ini. Awan mendung pun terbawa angin menjauh dari kami. Abang nelayan yang menjadi pemandu kami terus mengarahkan perahu ke tengah laut. Sesekali dia melihat ke arah sekitar, mencari pertanda gerombolan ikan lumba-lumba. Namun masih belum terlihat penampakannya. Satu persatu, perahu nelayan lain mulai terlihat mengarah ke satu titik seperti halnya perahu kami. Penulis sempat menghitung ada 17 perahu nelayan yang ada di sekitar kami dan semua penumpangnya memakai pelampung! (…glek!).

Perahu menembus pelangi

Perahu menembus pelangi

Secara tiba-tiba abang nelayan menunjuk ke sebuah arah dan mulai melajukan perahunya. Di depan kami, sirip-sirip ikan lumba-lumba terlihat meliuk-liuk. Jumlahnya ratusan! Mulanya sulit melihat sirip-sirip itu karena warnanya yang gelap dan samar diantara gulungan ombak yang cukup besar. Tapi setelah terbiasa, penulis bisa membedakannya. Kami segera mengabadikannya di camera masing-masing. Cukup sulit mencari fokus camera dengan perahu yang bergoyang-goyang terus akibat ombak. Apalagi camera kami hanyalah kamera saku biasa tanpa fitur IS (image stabilizer). Untungnya Bro Anto cukup cerdas dengan memilih mengabadikan kawanan lumba-lumba dengan video, sehingga hasilnya terlihat lebih baik dibanding mengabadikannya dengan gambar biasa. 

Tampaknya kegiatan kami menjadi semacam pertanda bagi perahu-perahu lain karena mereka pun lantas berbondong-bondong mengarahkan perahunya ke arah perahu kami dan ini terus berulang berlangsung bergantian. Hal ini sedikit mengganggu karena nampaknya sang ikan lumba-lumba menjadi tak nyaman dan sering kali menyelam dan menghilang entah kemana, sehingga kami harus mencari lagi penampakannya. Bayangkan saja kegiatan 17 perahu yang hilir mudik mencari jejak lumba-lumba di tempat yang itu-itu juga. Untungnya rombongan si dolphin ini terbagi atas beberapa group sehingga perahu tidak terfokus di satu titik.

Pulau batu karang yang tak berpenghuni, gitu gerbang Teluk Kiluan dari Lautan Lepas

Pulau batu karang yang tak berpenghuni, pintu gerbang Teluk Kiluan dari Lautan Lepas

Setelah rasanya cukup melihat lumba-lumba di habitat aslinya, kami lalu meminta abang nelayan memutar arah untuk pulang. Rasanya tidak bijaksana bertualang terlalu lama di tengah lautan lepas tanpa pelampung. Meskipun kegiatan petualangan selalu bersisian dengan kata ‘nekad’ dan ‘berbahaya’, tapi kami tetap harus tetap memikirkan keselamatan kami sendiri. Ya, keluarga kami menunggu di rumah masing-masing dengan keadaan selamat. Selama perjalanan pulang, si abang nelayan mengajak kami meyusuri tepian pantai yang berbatu karang dan masih belum tersentuh manusia. Sangat Indah!

Bagian dari Teluk Kiluan yang masih belum tersentuh manusia

Bagian dari Teluk Kiluan yang masih belum tersentuh manusia

Segera setelah kami tiba di Pondok, kami lalu berbagi pengalaman dengan semua teman-teman. Camera yang mengabadikan lumba-lumba pun silih berganti dilihat oleh teman-teman yang tidak ikut. Setelah berbagi pengalaman ini, ternyata kegelisahan yang penulis rasakan saat di tengah laut dirasakan juga oleh dua teman lainnya. Tapi kami sepertinya lebih memilih menyimpannya dalam hati masing-masing daripada diutarakan saat kami masih berada di laut….:D!

Tak lama kemudian, makanan santap siang dihidangkan yang dengan tanpa basa-basi lagi kami santap dengan lahap. Setelah makan siang, kami semua sepakat kembali ke Jakarta karena beberapa teman harus masuk kerja besok Senin. Rasanya enggan meninggalkan kedamaian di pulau ini selain juga karena belum semua bagian pulau tereksplorasi. Tapi kami sepakat untuk pulang dengan tim yang utuh seperti halnya saat kami berangkat. Bro Dee-J dibantu beberapa teman menyempatkan diri menempel stiker KHCC di kaca jendela nako pondok dengan seijin pak Dirham sebagai kenang-kenangan. Setelah mengepak barang masing-masing dan check out ke Pak Dirham, kami lalu menaiki speed boat ke arah Desa Kiluan di daratan Sumatera. Selamat tinggal pulau Kelapa!

Formasi Adventouride 2 sesaat sebelum berangkat pulang

Formasi Adventouride 2 sesaat sebelum berangkat pulang

Setelah mempersiapkan motor masing-masing dan berpose bersama-sama, kami lalu berangkat menuju arah pulang. Di jalan tanjakan beton, Sist Fay seperti halnya pada saat menuruni jalanan terjal ini tidak mau mengambil resiko, sehingga motornya penulis bawa hingga ke atas dan turun kembali untuk mengambil motor penulis sendiri. Sist Fay sendiri penulis bonceng di motor penulis dengan mendapatkan ‘pengawalan ketat’ dari Bro Ecko dan Bro Dee-J yang rela berjalan kaki turun kembali. Luar biasa kesetiakawanan mereka meskipun saat mereka tiba di tanjakan nafas mereka ngos-ngosan sehingga harus berisitirahat dulu di bawah rindangnya pohon si tepi jurang. Pada saat kami istirahat, kami sempat bengong melihat tukang ojek setempat hilir mudik menuruni dan menaiki jalan beton yang terjal itu dengan membonceng dua orang penumpang sekaligus. Motor mereka sama dengan motor mayoritas adventourider, yaitu motor Honda Karisma. Tapi nampaknya mereka santai saja ….Hahahaha!

Tiga orang sukarelawan turun gunung demi kawan seperjalanan

Tiga orang sukarelawan turun gunung demi kawan seperjalanan

 

Beristirahat sejenak setelah turun dan naik jalan beton

Beristirahat sejenak setelah turun dan naik jalan betonPondok Kelapa dari kejauhan

 

Teluk Kiluan dengan Pulau Kelapanya

Teluk Kiluan dengan Pulau Kelapanya

Sebelum berangkat, kami menyempatkan diri melihat ke arah Teluk Kiluan sekali lagi. Indah sekali pemandangannya di tengah cuaca cerah siang itu. Entah kapan kami akan kembali ke tempat ini lagi.

Bersambung…

HH

Comments
  1. ubrium says:

    ijin copas 3 tulisan ke Teluk Kilauan ke http://www.kaskus.us/showthread.php?p=516048354&posted=1#post516048354 ya om.
    Ternyata berangkatnya dari Panahan Senayan, kami kopdar di sana.

    Kami ada rencana ke Teluk Kilauan kebetulan.

  2. jahe says:

    brengsek….mupenggg bgt nih

  3. Andry says:

    turing sabang atau jawa-bali-lombok Ne enaknya ? :p …
    *kompor lagi …………

  4. wih dah ada kelanjutannya nih, dibaca dulu om😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s