Adventouride 2 : Ride To The Harmony,Touring Teluk Kiluan – Lampung Selatan #4 of 4

Posted: June 21, 2011 in Uncategorized

Setelah menikmati suasana alam di Pulau Kelapa di Teluk Kiluan yang bersahaja, akhirnya rombongan Adventouride 2 KHCC (Karisma Honda Cyber Community) mengadakan perjalanan pulang kembali ke Jakarta. Biasanya dalam kisah-kisah perjalanan, para penulis jarang menceritakan secara detail perjalanan pulang karena memang biasanya tidak ada kejadian yang menarik dan layak ditunggu oleh pembaca. Tapi nampaknya untuk perjalanan kami dari Lampung ke Jakarta masih menyisakan cerita yang cukup menarik setidaknya bisa dijadikan refleksi dan pengalaman dalam mengadakan perjalanan sejenis di waktu mendatang. Selamat membaca.

DSC01984

Teluk Kiluan – Jakarta, 15-16 Mei 2011.

Perjalanan pulang Teluk Kiluan – Jakarta nampaknya lebih lancar dari perjalanan pergi. Ada kendala saat kami akan keluar dari Desa Kiluan karena harus melewati tanjakan yang sangat curam yang sehari sebelumnya kami turuni. Beberapa anggota rombongan malahan ragu untuk naik saking curam dan licinnya tanjakan. Namun alhamdulillah tanjakan curam itu bisa dilewati. Kejadian lucu yang membuat kami bengong (dan setengah malu) muncul saat seorang penduduk setempat (ojek?) dengan motor Honda Karisma yang sama dengan yang kami gunakan mampu membonceng dua gadis sekaligus….hahahahah!!! Kocak!!!. Setelah sampai di puncak tanjakan, kami bisa memuaskan pemandangan ke arah teluk kiluan untuk terakhir kalinya.

Kami pun sempat berhenti untuk mengambil beberapa spot foto di beberapa lokasi yang pemandangannya ciamik, tapi selebihnya kami tancap gas hingga sampai di Pertigaan kota kecamatan Padang Cermin. Disana kami berhenti makan siang (tepatnya makan mie bakso yang rasanya cukup enak seperti yang biasa penulis temui di Bandung).

Ritual Bro Rori saat break kembali terjadi di Warung Bakso ini sehingga menjadi semacam tragedi. Saat yang lain hanya membuka helm dan jacket untuk sekedar melepas panas, Bro Rori membuka hampir semua perlengkapannya (termasuk membuka sepatu dan berganti dengan celana pendek!) sehingga proses berangkat kembali pun menjadi agak lebih lama dari biasanya. Ampyunnnn!!!

Seusai makan dengan cukup puas karena rasa baksonya yang enak dan harganya yang tak jauh dengan harga bakso di pulau Jawa, kembali kami melanjutkan perjalanan hingga akhirnya sampai di POM Bensin Bandar Lampung tempat dulu kami mengisi bensin. Di POM bensin itu, kembali kami sempat bertegur sapa dengan club motor setempat yang juga sedang rehat di POM bensin tersebut (Justice Motor Club, entah apa maksud nama club seperti itu :D) yang beranggotakan para ABG. Tapi meskipun begitu, sikap mereka yang ramah dan sopan membuat kami simpati dan tanpa kami minta mengantar kami hingga ke sentral penjualan oleh-oleh khas Lampung. Thanks Bro!

Di sentral penjualan oleh-oleh khas Lampung, hampir semua peserta memborong makanan khas lampung berupa keripik pisang, dodol duren, kerupuk amplang dan Kopi khas lampung. Khusus untuk kopi Lampung, penulis tidak membeli kopi luwak karena meskipun Lampung termasuk penghasil kopi luwak, ternyata harganya masih cukup mahal. Jadi lupakan membawa oleh-oleh kopi Luwak untuk beberapa teman pecinta minum kopi😀. (Sorry to bro Bodats, sobat saya pecinta kopi di KHCC yang berhalangan ikut pada kesempatan touring kali ini).

Setengah jam kemudian, kami melajutkan perjalanan ke arah Pelabuhan Bakaheuni yang alhamdulillah berjalan dengan sangat lancar. Naluri setiap rider untuk segera sampai ke rumah saat pulang touring nampaknya memacu setiap peserta Adventouride 2 memacu kendaraannya semaksimal mungkin. Akibatnya beberapa kali kami terpencar-pencar karena masing-masing ingin terdepan. Hal ini yang sebenarnya penulis takutkan. Syukurlah, saat kami sampai di Pelabuhan Bakaheuni sekitar jam 16.30 WIB, kami semua tiba dengan selamat dan sehat walafiat.

Setelah membeli ticket kami pun antri masuk kapal Ferry. Saat kami antri, tiba-tiba saja motor Bro Dee-J mati mendadak sehingga side box yang dipakainya dipindahkan ke motor Bro Anto untuk mengurangi beban kendaraan dan motornya didorong ke atas Ferry dengan di stut (didorong dengan kaki). Setelah beberapa kali dicoba untuk dihidupkan dengan berbagai cara, motor Bro Dee-J benar-benar mati total sehingga akhirnya motor didiamkan saja dengan rencana setiba di Merak akan mencari bengkel motor terdekat (Anehnya setelah didiamkan, motor bisa hidup kembali. Kesimpulan sementara adalah mesin motor overheat).

Sore itu kapal Ferry yang kami tumpangi cukup penuh disesaki oleh para penumpang yang mayoritas usai berlibur di Lampung dan sekitarnya. Tapi kami tetap bisa parkir dengan cukup aman dan nyaman. Tak seperti waktu berangkat, penulis memilih duduk di balkon atas di udara terbuka karena selain ingin melihat pemandangan pelabuhan Bakaheuni saat Ferry berangkat, juga ingin menikmati suasana sore di Selat Sunda. Perasaan penulis bercampur aduk saat perlahan-lahan kapal Ferry yang kami tumpangi meninggalkan pelabuhan Bakaheuni dengan bacground sore hari yang indah. Bangunan megah di puncak bukit yang menyapa kami saat kami tiba pertama kali di Bakaheuni kemarin subuh pun seakan enggan kami tinggalkan. Mudah-mudahan ada kesempatan bagi penulis untuk kembali menapak jalan di Sumatera kelak. Selamat Tinggal Lampung!

Tak lama kemudian, Bro Ecko, Ableh dan Fay menyusul ke atas balkon sehingga penulis pun mempunyai teman ngobrol. Perlahan-lahan, sore pun menghilang digantikan malam. Gelapnya balkon Ferry sangat terasa karena berlampu minim, apalagi udara begitu dingin karena tiupan angin yang berasal dari depan cukup kencang. Untungnya penulis memakai rompi yang cukup tebal.

Bintang-bintang berhamburan di atas kami. Penulis sempat melihat rasi bintang Scorpion, Orion dan rasi bintang Biduk di belahan langit selatan. Rasi bintang yang menjadi panduan bagi para nelayan tradisional ini cukup jelas terlihat karena tak ada kabut polusi yang menghalanginya seperti halnya di Jakarta.

Beberapa pulau kecil yang terlihat berupa gundukan gelap kami lintasi perlahan-lahan. Di Kejauhan, kerlap-kerlip lampu di pelabuhan Bakaheuni masih terlihat, dan sebagai gantinya, di arah berlawanan lampu-lampu di pelabuhan Merak semakin terlihat jelas. Sesekali riuh celoteh Bro Ecko & Sist Fay yang ngobrol diselingi nyanyian mereka, sesekali ditimpali Bro Ableh yang seperti tak mau kalah dengan suara dimiripkan Ariel Peterpan. Beberapa lagu-lagu lama bertemakan nostalgia (huhuuuyyyy…!!) mereka nyanyikan menyemarakkan suasana yang temaram di balkon itu. Kami tak beranjak hingga kami tiba di Pelabuhan Merak. Dan seperti yang dikhawatirkan, kapal Ferry yang kami tumpangi terlambat bersandar ke Pelabuhan Merak karena harus mengantri untuk berlabuh. Indonesia banget!

Jam 11.30 WIB kami baru bisa turun dari kapal ferry dengan perasaan yang lega dan tapi juga penat. Beberapa saat selepas dari pelabuhan Merak, tiba-tiba kami dikawal sepasang motor Honda Karisma, yang ternyata 2 orang member Honda Karisma Cilegon (KHC) yang dikontak oleh Sist Fay dengan maksud awal minta bantuan mencari bengkel terdekat untuk motor Bro Dee-J. Tapi karena motornya sudah kembali normal maka kami diantar untuk makan malam di Serang. Saat makan nasi uduk dengan porsi besar (karena terakhir kami hanya makan bakso di Padang Cermin tadi sore), kami sempat ngobrol dengan anak-anak HKC itu hingga jam 12.30 WIB. Menjelang makan malam, Bro Anto memutuskan memisahkan diri dari rombongan lebih awal karena besoknya dia harus masuk kerja. Meskipun dengan berat hatinya karena walau bagaimana pun cukup beresiko di perjalanan seorang diri di jam-jam seperti itu, akhirnya penulis mengijinkan Bro Anto pulang sendiri. Semoga tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Setelah cukup bersilaturahmi dan berfoto bersama dengan teman-teman baru kami dari HKC, kami pun melanjutkan perjalanan. Saat kami tiba di daerah tertentu dekat Balaraja, kami pun mampir di POM Bensin karena persediaan bensin kami sudah mulai tipis. Saat itulah mulai terasa mata beberapa peserta touring terasa berat dan sudah tidak bisa diajak kompromi lagi untuk melanjutkan perjalanan. Maka demi keselamatan bersama, kami memutuskan untuk istirahat dulu untuk tidur. Kami tidur sebisanya di pelataran mesjid yang cukup bersih di POM Bensin itu. Namun Bro Taufik yang tinggal setengah jam lagi sampai di rumahnya di Balaraja memutuskan terus jalan.

Thanks Bro Taufik! Janji penulis untuk mengajak dia touring ke Lampung akhirnya terpenuhi. See you bro! (Dua minggu kemudian, saat KHCC kopdar di Panahan – Senayan, Bro Taufik sengaja datang dari Balaraja untuk kembali bersilaturahmi dan mengambil hadiah Door Prize khusus untuk peserta Adventouride 2, luar biasa sobat penulis yang satu ini!)

Jam 04.10 WIB, penulis terbangun. Teman-teman seperjalanan penulis masih bergeletakan di pelataran mesjid yang sempit. Beberapa orang yang tak kami kenal namun kemalaman seperti halnya kami tampak masih tertidur juga di beberapa lokasi pelataran mesjid lainnya. Penulis memutuskan untuk mandi di toilet mesjid yang ternyata cukup bersih, karena terakhir mandi di Pulau Kelapa masih terasa kulit yang lengket akibat mandi dengan air payau. Seusai mandi dan sholat subuh, terpaksa penulis membangunkan semua anggota rombongan yang lainnya karena kami ingin segera berangkat sepagi mungkin untuk menghindari terjebak macetnya kota Tangerang dan Jakarta di hari Senin seperti ini.

Jam 05.00 WIB kami melanjutkan perjalanan ke arah Tangerang. Sempat berhenti untuk sarapan di warteg (karena kondisi sist Fay yang tiba-tiba ngedrop dan berusaha dihibur oleh Ecko dengan suara yang terlihat sangat khawatir….ehmmm), kami sampai di Tangerang yang penuh sesak dengan kendaraan bermotor. Seperti yang kami khawatirkan, kami pun terjebak macet dari Kalideres hingga jalan Panjang – Kebon Jeruk. Back to reality! Tapi kami tetap masih bisa satu rombongan hingga tiba di awal jalan Kebon Jeruk.

Saat kami terlepas dari kemacetan di Jalan Panjang – Kebon Jeruk dan penulis serta sist fay berjalan lebih dulu, insiden kecelakaan itu pun terjadi. Berawal dari kebingungan penulis dan sist Fay yang menunggu anggota rombongan lain di belakang kami yang tidak muncul-muncul di POM bensin yang disepakati. Saat itu komunikasi kami hampir terputus karena sebagian besar HP peserta sudah mati akibat lowbatt. Tiba-tiba telepon sist Fay berbunyi. Ternyata dari Bro Anto yang sudah lebih dulu di Jakarta sejak tadi malam. Dia mengabarkan bahwa Bro Ecko mengalami kecelakaan di belakang kami dan saat itu beserta rombongan lain telah berada di Kantor Polisi Kebon Jeruk.

Waduhh…runyam jadinya! Kami pun berbalik arah ke kantor polisi Kebon Jeruk. Untungnya penulis cukup hafal daerah itu karena selama 3 tahun penulis berkantor di daerah ini, sehingga dengan mudah, kami berdua segera sampai di lokasi kantor polisi yang dimaksud.

Di kantor polisi, penulis mendapat informasi bahwa Side Box Bro Ecko menyerempet penyeberang jalan yang tiba-tiba saja menyeberang jalan di balik sebuah angkot. Akibatnya keduanya terjatuh. Untung safety gear yang dipakai Bro Ecko cukup lengkap sehingga dia terhindar dari luka-luka yang berat. Si penyeberang jalan yang disenggol pun sebenarnya tidak mengalami luka-luka yang berarti dan Bro Ecko pun sebenarnya sudah meminta maaf dan mengajak untuk berdamai dengan sebaik-baiknya. Tapi si penyeberang jalan menuntut agar Bro Ecko bertanggung jawab dan memberikan perhatian lebih. Sikapnya yang tidak simpatik dan tidak patut diperlihatkan oleh seseorang yang usianya sudah begitu dewasa memancing emosi beberapa anggota rombongan, bahkan menyulut juga beberapa penduduk setempat, sehingga nyaris terjadi pengeroyokan. Untung hal itu tidak terjadi karena kalau terjadi juga akibatnya akan semakin buruk.

Akhirnya setelah penulis sempat beradu argumentasi dengan korban yang tetap ngotot (dan merasa mendapat backing dari kenalannya yang juga anggota kepolisian) diambil kesepakatan untuk mengantar si penyeberang jalan memeriksa lukanya ke rumah sakit Siloam Kebon Jeruk. Disana dia diperiksa di UGD rumah sakit yang cukup mewah ini dengan diagnosanya adalah hanya luka kecil biasa. Syukurlah, semuanya beres meskipun rasanya masih tidak bisa terima dengan sikap si penyeberang jalan yang benar-benar angkuh dan arogan.

Pelajaran yang bisa diambil adalah : terbukti bahwa perjalanan pulang setelah perjalanan jauh adalah perjalanan paling rawan karena kondisi fisik sudah terkuras sehingga konsentrasi pun berkurang.

Setelah semuanya beres, penulis memutuskan pulang duluan karena Bro Ecko dan yang lain masih ingin beristirahat di halaman kantor Polisi. Satu jam kemudian, penulis tiba di rumah dengan selamat dan kelelahan, tapi dengan perasaan puas. Alhamdulillah!

Perjalanan yang luarbiasa, teman seperjalanan yang solid dan kompak, tujuan wisata yang indah seakan menjadi cerita tersendiri yang akan sangat sayang dilewatkan untuk dishare ke teman-teman pecinta petualangan lainnya. Semoga akan ada perjalanan-perjalanan lainnya dengan cerita yang berbeda pula (tapi tanpa kecelakaan lagi ya….:D, amin).

SELESAI

HH

Comments
  1. akhirnya posting juga cerita terakhir turing ini..
    makasih kang udah merangkumg semuanya menjadi cerita
    *untung kisah sang penjaga toilet ferry tidak diceritakan disini*
    hehehehe…
    sampai jumpa di turing selanjutnya dengan saya, fay dan arilangga (our little dude)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s