Pertigaan Sumir, Pondok Gede : Biang Kemacetan Sepanjang Hari

Posted: May 8, 2011 in Keluarga, Others, Resensi
Tags: , , , ,

Rasanya seperti orang bodoh harus berhadapan dengan kemacetan tiap hari di tempat yang sama. Tiadanya jalan alternatif yang lebih baik mengakibatkan setiap orang (termasuk penulis) mau tidak mau harus melalui pertigaan yang macetnya bikin mumet : Pertigaan Sumir (Pondok Gede) – Kodya Bekasi. Pepatah orang tua : Jangan jatuh di lubang yang sama, mau tidak mau harus ditelan mentah-mentah! Seperti halnya kita harus menerima kurang tanggapnya pemangku kebijaksanaan di daerah setempat untuk memecahkan masalah yang sudah bertahun-tahun terus berlangsung ini. Anggaplah Pemda ‘belum mampu’ menanganinya dan merasa cukup puas dengan menerjunkan petugas kepolisian serta DLLAJR di lokasi tersebut, tapi apakah masih belum kuatkah ‘power’ seorang menteri (yang tidak perlu saya sebutkan namanya) yang tinggal di sebuah kompleks mewah hanya berjarak 200 meter dari pertigaan ini dan juga seorang anggota DPR-RI yang berdomisili di sekitar pertigaan pada kemacetan yang hampir sepanjang hari ada?

Pertigaan Sumir - Pondok Gede, di kondisi pagi sebelum macet
Pertigaan Sumir – Pondok Gede, di kondisi pagi sebelum macet

Bagi pembaca yang belum mengenal daerah yang penulis maksud, berikut sekilas gambaran lokasinya. Pertigaan Sumir adalah pertigaan yang mempertemukan jalan Hankam Raya – Bekasi (dari Pondok Gede ke arah Ujung Aspal/Kranggan atau sebaliknya) dengan jalan dari arah Bambu Apus/Pagelaran – Cipayung, Jakarta Timur. Setiap harinya, ribuan pengguna jalan, baik roda empat atau roda dua, yang berdomisili di Pondok Gede, Jati Warna, Jati Asih, Ujung Aspal, Kranggan, Cibubur yang akan mengarah ke Jakarta Timur melalui Bambu Apus atau sebaliknya, harus melalui pertigaan ini. Hampir sepanjang hari, kemacetan panjang tidak pernah bisa dihindari di ketiga arahnya.

Lokasi Pertigaan Sumir - Pondok Gede

Lokasi Pertigaan Sumir - Pondok Gede

Menurut pengamatan penulis, sumber kemacetan di pertigaan ini berasal dari beberapa hal :

1.  Volume kendaraan yang melalui pertigaan ini semakin hari semakin padat seiring tumbuhnya perumahan-perumahan baru di sepanjang jalan raya Hankam dan sekitarnya.

2.  Lebar jalan yang sempit di sekitar pertigaan, dimana jalan hanya cukup untuk dilalui 2 kendaraan roda empat.

3.  Pemblokiran jalan dari arah Pondok Gede ke arah Bambu Apus atau dari arah Bambu Apus ke arah Kranggan dengan menggunakan barikade beton. Akibat pemblokiran ini, setiap kendaraan roda empat yang akan berbelok ke tujuan tersebut harus memutar cukup jauh atau memutar di pekarangan pertokoan sepanjang jalan raya Hankam yang mempunyai lahan cukup luas. Ini saja sudah cukup membuat kemacetan panjang. Diperparah lagi dengan kendaraan roda dua yang langsung memutar di sekitaran pertigaan yang terblokir serta angkutan umum yang menurunkan penumpang persis di tepi jalan pertigaan. Akibatnya, kemacetan kendaraan yang antri karena menunggu perputaran baik mobil atau motor harus bersabar dan mengantri hingga mencapai 500m di ketiga arah!

4.  Tiada jalan alternatif yang bisa mencapai daerah-daerah ini. Jika pun ada melalui jalan tol JORR (untuk kendaraan roda 4) mau tidak mau harus merogoh kocek Rp. 9000 rupiah (jauh dekat). Dan kini jalan tol ini pun tidak terhindar dari kemacetan pula.

Motor yang memutar arah di akhir barikade beton

Motor yang memutar arah di akhir barikade betonKendaraan roda empat juga tak mau ketinggalan untuk berputar arah di tengah kemacetanMobil pun tak mau kalah memutar kendaraannya di tengah kemacetan

Jika para pemangku kekuasaan di daerah ini cukup peduli dan jeli dengan kondisi di atas, maka dapat mulai dipikirkan (serta memasukkan dalam anggaran belanja daerah tahun berikutnya) untuk tindakan-tindakan sebagai berikut :

1.   Memperlebar jalan di pertigaan dan jalan-jalan pendukungnya (tentunya dengan pembebasan area pemukiman yang terkena dampak pelebaran ini).

2.   Membuat/mendesain ulang lokasi ‘U-turn’ (tempat berputar kendaraan) yang didesain sebaik mungkin sehingga tidak mengakibatkan antrian kendaraan.

3.   Membuat jalur alternatif agar volume kendaraan yang melalui pertigaan ini bisa berkurang.

Khusus untuk point no 3, salah satu jalur alternatif yang memungkinkan yaitu diteruskannya pembangunan jalan alternatif samping tol yang tembus dari jalan Setu Raya ke gerbang keluar tol JORR di Jati Warna (lihat peta). Hal ini sangat memungkinkan mengingat jalan jalan tersebut telah berfungsi dengan baik, namun sayangnya jalan terputus mulai dari arah jalan Raya Setu hingga gerbang Toll keluar JORR – Jati Warna.

(HH, 08/05/2011)

Comments
  1. Agung says:

    Harusnya dinas terkait memikirkan jalan Altenatif segera dibangun… Biasanya seh klo didaerah perbatasan seperti ini (pertigaan sumir) berbatasan DKI Jakarta (jakarta timur) dan Jawa Barat (bekasi ) kurang diperhatikan oleh pemerintah kita. aku sendiri tinggal didaerah ciledug yang berbatasan dengan DKI Jakarta dan Tangerang, yg jalan ciledug juga masuk urutan ke 2 kemacetan dijakarta setelah jalan daan mogot

  2. Benk says:

    ,,yuup,,,sllu macet,,pa lagi jam brgkt krja,,dan plng krja,,,,,,

  3. gandang says:

    tiap hari macet…kalo mau lancar di bwh jam 5 pg

  4. raihan yudo saputa says:

    siapa bilang gk macet
    coba lu ke sono
    gw aja yang rumahnya di pertigaan sumir
    macet amat !!
    bayangin
    dari jam 05:30 gw nyari angkot sampe jam 06:00
    dan paling parah 1 setengah jam kejebak pulang

  5. andryberlianto says:

    masa sih macet ? lancar kok ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s