Semangat GAMBARU Masyarakat Jepang

Posted: March 23, 2011 in Keluarga, Others
Tags: , , , ,
Kesenangan penulis membaca buku dahsyat berjudul “Musashi” karya Eiji Yoshikawa untuk yang ke 4 kalinya selain juga buku “The Lone Samurai” karya Willian Scott Wilson ditambah dengan seringnya menonton film “The Last Samurai” karya sutradara Edward Zwick yang dibintangi oleh Tom Cruise dan Ken Watanabe tanpa bosan-bosannya, semakin terlengkapi dengan adanya artikel di bawah karya Rouli Esther Pasaribu, seorang WNI yang melanjutkan kuliahnya di Jepang. Mengenali ‘Jiwa terdalam orang Jepang’ yang dirasakan penulis saat membaca/menonton hasil karya seni di atas semakin terasa setelah penulis membaca artikel ini, yang menurut penulis adalah salah satu artikel yang sangat “menggugah” rasa kemanusiaan, nasionalisme dan mental kerja siapa pun yang membacanya. Hal ini semakin diperkuat dengan adanya bencana besar yang menimpa Jepang baru-baru ini!
 
 
Jepang, sebagai bekas negara penjajah besar memang memiliki mental baja dan budaya disiplin yang sangat kuat. Dunia sudah mengakui kenyataan ini yang diindikasikan dengan bertebarannya produk-produk industri negera ini di seluruh dunia. Bahkan dalam menyikapi bencana dahsyat berupa gempa bumi dengan skala 8,9 skala richter serta gelombang sunami yang menyapu hampir seluruh pesisir timur negeri matahari terbit ini belum lama ini pun, mereka bisa memberikan pelajaran yang luar biasa untuk kita, bangsa Indonesia, yang juga sering tertimpa bencana.

Untuk itulah, penulis tergugah untuk mem-publish artikel karya Rouli Esther Pasaribu yang berjudul “Say YES to GAMBARU!” secara utuh. Artikel yang “wajib” dibaca oleh pembaca untuk menumbuhkan rasa kemanusiaan, nasionalisme, mental kerja, disiplin, dan budaya “peduli” pada kondisi di sekitar lingkungan kita. Silahkan membaca dan bersiaplah menerima pencerahan baru!

Catatan : Tambahan foto-foto Jepang pasca bencana, penulis sisipkan dengan mengambil dari www.ADN.com

————————————————————————————————————————————-

“Say YES to GAMBARU!”
By Rouli Esther Pasaribu

Terus terang aja, satu kata yang bener2 bikin muak jiwa raga setelah tiba di Jepang dua tahun lalu adalah : GAMBARU alias berjuang mati-matian sampai titik darah penghabisan.
Muak abis, sumpah, karena tiap kali bimbingan sama prof, kata-kata penutup selalu :
motto gambattekudasai (ayo berjuang lebih lagi), taihen dakedo, isshoni gambarimashoo (saya tau ini sulit, tapi ayo berjuang bersama-sama),
motto motto kenkyuu shitekudasai (ayo bikin penelitian lebih  dan lebih lagi). 

Sampai gw rasanya pingin ngomong, apa ngga ada kosa kata lain selain GAMBARU? apaan kek gitu, yang penting bukan gambaru. 

Gambaru itu bukan hanya sekadar berjuang2 cemen gitu2 aja yang kalo males atau ada banyak rintangan, ya udahlah ya…berhenti aja. 
Menurut kamus bahasa jepang sih, gambaru itu artinya : “doko made mo nintai shite doryoku suru” (bertahan sampai kemana pun juga dan berusaha abis-abisan) 

Gambaru itu sendiri, terdiri dari dua karakter yaitu karakter “keras” dan “mengencangkan”. 
Jadi image yang bisa didapat dari paduan karakter ini adalah “mau sesusah apapun itu persoalan yang dihadapi, kita mesti keras dan terus mengencangkan diri sendiri, agar kita bisa menang atas persoalan itu” 
(maksudnya jangan manja, tapi anggap semua persoalan itu adalah sebuah kewajaran dalam hidup, namanya hidup emang pada dasarnya susah, jadi jangan ngarep gampang, persoalan hidup hanya bisa dihadapi dengan gambaru, titik.). 

Terus terang aja, dua tahun gw di jepang, dua tahun juga gw ngga ngerti, kenapa orang2 jepang ini menjadikan gambaru sebagai falsafah hidupnya.

Bahkan anak umur 3 tahun kayak Joanna pun udah disuruh gambaru di sekolahnya, kayak pake baju di musim dingin mesti yang tipis2 biar ngga manja terhadap cuaca dingin, di dalam sekolah ngga boleh pakai kaos kaki karena kalo telapak kaki langsung kena lantai itu baik untuk kesehatan, sakit2 dikit cuma ingus meler2 atau demam 37 derajat mah ngga usah bolos sekolah, tetap dihimbau masuk dari pagi sampai sore, dengan alasan, anak akan kuat menghadapi penyakit jika ia melawan penyakitnya itu sendiri. 

Akibatnya, kalo naik sepeda di tanjakan sambil bonceng Joanna, dan gw ngos2an kecapean, otomatis Joanna ngomong : Mama, gambare! mama faitoooo! (mama ayo berjuang, mama ayo fight!). 

Pokoknya jangan manja sama masalah deh, gambaru sampe titik darah penghabisan it’s a must! 

Gw bener2 baru mulai sedikit mengerti mengapa gambaru ini penting banget dalam hidup, adalah setelah terjadi tsunami dan gempa bumi dengan kekuatan 9.0 di jepang bagian timur. 
Gw tau, bencana alam di indonesia seperti tsunami di aceh, nias dan sekitarnya, gempa bumi di padang, letusan gunung merapi….juga bukanlah hal yang gampang untuk dihadapi. Tapi, tsunami dan gempa bumi di jepang kali ini, jauuuuuh lebih parah dari semuanya itu. Bahkan, ini adalah gempa bumi dan tsunami terparah dan terbesar di dunia. 

Wajaaaaaaar banget kalo kemudian pemerintah dan masyarakat jepang panik kebingungan karena bencana ini. Wajaaaaar banget kalo mereka kemudian mulai ngerasa galau, nangis2, ga tau mesti ngapain. 

Bahkan untuk skala bencana sebesar ini, rasanya bisa “dimaafkan” jika stasiun-stasiun TV memasang sedikit musik latar ala lagu-lagu ebiet dan membuat video klip tangisan anak negeri yang berisi wajah-wajah korban bencana yang penuh kepiluan dan tatapan kosong tak punya harapan. 

Bagaimana tidak, tsunami dan gempa bumi ini benar-benar menyapu habis seluruh kehidupan yang mereka miliki. Sangat wajar jika kemudian mereka tidak punya harapan. 

Tapi apa yang terjadi pasca bencana mengerikan ini? 

Dari hari pertama bencana, gw nyetel TV dan nungguin lagu-lagu ala ebiet diputar di stasiun TV. 
Nyari-nyari juga di mana rekening dompet bencana alam. Video klip tangisan anak negeri juga gw tunggu2in. Tiga unsur itu (lagu ala ebiet, rekening dompet bencana, video klip tangisan anak negeri), sama sekali ngga disiarkan di TV. 
Jadi yang ada apaan dong? 

Ini yang gw lihat di stasiun2 TV : 

1. Peringatan pemerintah agar setiap warga tetap waspada

2. Himbauan pemerintah agar seluruh warga jepang bahu membahu menghadapi bencana (termasuk permintaan untuk menghemat listrik agar warga di wilayah tokyo dan tohoku ngga lama-lama terkena mati lampu)

3. Permintaan maaf dari pemerintah karena terpaksa harus melakukan pemadaman listrik terencana

4. Tips-tips menghadapi bencana alam

5. nomor telepon call centre bencana alam yang bisa dihubungi 24 jam

6. Pengiriman tim SAR dari setiap perfektur menuju daerah-daerah yang terkena bencana

7. Potret warga dan pemerintah yang bahu membahu menyelamatkan warga yang terkena bencana (sumpah sigap banget, nyawa di jepang benar-benar bernilai banget harganya)

8. Pengobaran semangat dari pemerintah yang dibawakan dengan gaya tenang dan tidak emosional : mari berjuang sama-sama menghadapi bencana, mari kita hadapi (government official pake kata norikoeru, yang kalo diterjemahkan secara harafiah : menaiki dan melewati) dengan sepenuh hati

9. Potret para warga yang terkena bencana, yang saling menyemangati :
*ada yang nyari istrinya, belum ketemu2, mukanya udah galau banget, tapi tetap tenang dan ngga emosional, disemangati nenek2 yang ada di tempat pengungsian : gambatte sagasoo! kitto mitsukaru kara. Akiramenai de (ayo kita berjuang cari istri kamu. Pasti ketemu. Jangan menyerah)

*Tulisan di twitter : ini gempa terbesar sepanjang sejarah. Karena itu, kita mesti memberikan usaha dan cinta terbesar untuk dapat melewati bencana ini;
Gelap sekali di Sendai, lalu ada satu titik bintang terlihat terang. Itu bintang yang sangat indah. Warga Sendai, lihatlah ke atas. 

Sebagai orang Indonesia yang tidak pernah melihat cara penanganan bencana ala gambaru kayak gini, gw bener-bener merasa malu dan di saat yang bersamaan : kagum dan hormat banget sama warga dan pemerintah Jepang. 

Ini negeri yang luar biasa, negeri yang sumber daya alamnya terbatas banget, negeri yang alamnya keras, tapi bisa maju luar biasa dan punya mental sekuat baja, karena : falsafah gambaru-nya itu. 

Bisa dibilang, orang-orang jepang ini ngga punya apa-apa selain GAMBARU. Dan, gambaru udah lebih dari cukup untuk menghadapi segala persoalan dalam hidup. 

Bener banget, kita mesti berdoa, kita mesti pasrah sama Tuhan. 
Hanya, mental yang apa-apa “nyalahin” Tuhan, bilang2 ini semua kehendakNya, Tuhan marah pada umatNya, Tuhan marah melalui alam maka tanyalah pada rumput yang bergoyang…..

I guarantee you 100 percent, selama masih mental ini yang berdiam di dalam diri kita, sampai kiamat sekalipun, gw rasa bangsa kita ngga akan bisa maju. 

Kalau ditilik lebih jauh, “menyalahkan” Tuhan atas semua bencana dan persoalan hidup, sebenarnya adalah kata lain dari ngga berani bertanggungjawab terhadap hidup yang dianugerahkan Sang Pemilik Hidup. 

Jika diperjelas lagi, ngga berani bertanggungjawab itu maksudnya  : lari dari masalah, ngga mau ngadepin masalah, main salah2an, ngga mau berjuang dan baru ketemu sedikit rintangan aja udah nangis manja. 

Kira-kira setahun yang lalu, ada sanak keluarga yang mempertanyakan, untuk apa gw menuntut ilmu di Jepang. Ngapain ke Jepang, ngga ada gunanya, kalo mau S2 atau S3 mah, ya di eropa atau  amerika sekalian, kalo di Jepang mah nanggung. Begitulah kata beliau. 

Sempat terpikir juga akan perkataannya itu, iya ya, kalo mau go international ya mestinya ke amrik atau eropa sekalian, bukannya jepang ini. Toh sama-sama asia, negeri kecil pula dan kalo ga bisa bahasa jepang, ngga akan bisa survive di sini. 
Sampai sempat nyesal juga,kenapa gw ngedaleminnya sastra jepang dan bukan sastra inggris atau sastra barat lainnya. 

Tapi sekarang, gw bisa bilang dengan yakin  sama sanak keluarga yang menyatakan ngga ada gunanya gw nuntut ilmu di jepang. 

Pernyataan beliau adalah salah sepenuhnya. 

Mental gambaru itu yang paling megang adalah jepang. Dan menjadikan mental gambaru sebagai way of life adalah lebih berharga daripada go international dan sejenisnya itu. 

Benar, sastra jepang, gender dan sejenisnya itu, bisa dipelajari di mana saja. Tapi, semangat juang dan mental untuk tetap berjuang abis-abisan biar udah ngga ada jalan, gw rasa, salah satu tempat yang ideal untuk memahami semua itu adalah di jepang. 

Dan gw bersyukur ada di sini, saat ini. Maka, mulai hari ini, jika gw mendengar kata gambaru, entah di kampus, di mall, di iklan-iklan TV, di supermarket, di sekolahnya joanna atau di mana pun itu, gw tidak akan lagi merasa muak jiwa raga. 

Sebaliknya, gw akan berucap dengan rendah hati : 

Indonesia jin no watashi ni gambaru no seishin to imi wo oshietekudasatte, kokoro kara kansha itashimasu. Nihon jin no minasan no yoo ni, gambaru seishin wo mi ni tsukeraremasu yoo ni, hibi gambatteikitai to omoimasu. 

(Saya ucapkan terima kasih dari dasar hati saya karena telah mengajarkan arti dan mental gambaru bagi saya, seorang Indonesia. Saya akan berjuang tiap hari, agar mental gambaru merasuk dalam diri saya, seperti kalian semuanya, orang-orang Jepang). 

Say YES to GAMBARU!

 ————————————————————————————————————

Bangsa Indonesia yang selama sejarah berdirinya negera ini tidak pernah menjajah negeri lain dan harus ikhlas menerima cap sebagai bekas negara jajahan dari 4 negara penjajah di dunia (Spanyol, Portugis, Belanda dan Jepang) harus mengakui bahwa mental sebagai negara jajahan masih melekat kuat hingga sekarang. Masalah mental yang lemah dan disiplin yang kurang adalah beberapa ciri masyarakat bekas negara jajahan yang mendarah daging di negeri ini. Tatanan hidup bernegara dan bermasyarakat di Indonesia seakan tidak pernah maju dan jalan di tempat. Indikasi yang paling kuat misalnya saja bisa dilihat dari lambatnya penanganan bencana di negeri ini, lalu prestasi olahraga nasional yang tidak bisa berbuat banyak di level internasional serta KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme) yang membudaya.

Pesan moral dari penulis adalah : Kita boleh berbangga sebagai Bangsa Indonesia setelah kita bisa menunjukkan rasa kemanusiaan yang murni, nasionalisme yang bertanggung jawab serta belajar dari sejarah, disiplin diri, peduli akan lingkungan serta mental baru sebagai bangsa yang pernah terjajah namun berusaha untuk bangkit mensejajarkan diri dengan bangsa maju lain di seluruh dunia!

Jakarta, 23 Maret 2011

Photo : Courtesy of www. ADN.com

Comments
  1. anthon says:

    presidennya sdh dari berbagai kalangan, orator ulung, tentara yg otoriter, teknokrat, ibu rumah tangga, humanis, sampai tentara yg sentimentil juga sudah, selanjutnya mungkin perlu presiden yg sudah menjiwai mental orang Jepang, tapi siapa ?

  2. anthon says:

    gimana caranya ya bangsa Indonesia bisa punya mental yang bagus ?

  3. Yanti says:

    Wah aku telat baca tulisan kamu tapi ga apa bagus euy tulisan Jepang and referensi tentang gambarunya, it spirit for me thanks a lot

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s