Wanita Pejuang Safety Riding Telah Pergi

Posted: February 16, 2011 in Keluarga, Others
Tags: , , , , ,

Nada dering BBM (Black Berry Massanger) berbunyi tanda sebuah pesan telah masuk di handphone penulis. Saat itu siang hari tanggal 05 Februari 2011. Penulis mengambil Handphone yang penulis letakkan di atas meja. Sebuah pesan BBM dari Irwan Handoko, sahabat penulis di KHCC (Karisma Honda Cyber Community) penulis baca. Isinya adalah informasi bahwa Melanie Parmawatie, seorang lady biker, penggiat safety riding dan member dari 4 komunitas yang berbeda, dikabarkan telah mengalami kecelakaan bermotor di daerah Purwakarta dan saat ini sedang dalam keadaan koma di RS Hasan Sadikin – Bandung. Penulis pun mengirimkan balasan BBM turut prihatin atas tragedi ini dan berdoa agar sist Melly, demikian dia dipanggil akrab oleh teman-teman dekatnya, segera tersadar dari komanya dan segera recovery. Berbagai ucapan prihatin bermunculan dalam group BBM penulis hingga malam hari.

Doa dalam kebisuan di sekitar makam Sist Melanie

Hari Minggu pagi, tanggal 06 Februari 2011, penulis kembali mendapat BBM. Kali ini berisi ucapan duka : Telah meninggal dunia tanpa sempat sadar dari komanya, sist Melanie yang sebelumnya dikabarkan telah mengalami kecelakaan. Penulis tersentak dan spontan mengucapkan dengan lirih Innalillahi wa Innalillahi Roziun, setiap ciptaan Alloh telah kembali ke haribaannya. Penulis sangat berduka. Berduka karena kembali seorang pengendara sepeda motor tewas karena kecelakaan lalu lintas.

Secara pribadi, penulis tidak mengenal sist Melanie ini, bahkan belum pernah bertegur sapa secara langsung. Penulis mengenal sist Melanie dari jejaring sosial Facebook karena kami sama-sama member dalam komunitas bermotor, dimana komunitas kami sangat perduli pada safety riding. Tapi kurang tahuan penulis atas sosok Melanie tetap membawa duka bagi penulis dan sahabat-sahabat penulis penggiat keselamatan bermotor. Menurut Andry Berlianto, sahabat penulis di KHCC sekaligus blogger penggiat keselamatan berkendara yang juga sahabat almarhumah, Melanie adalah sosok yang supel dan ramah. Keramahannya membuat almarhumah sangat dikenal luas dalam jagat komunitas bermotor, baik di Jakarta maupun di daerah-daerah lainnya. “Gue sampe nangis waktu denger Melly meninggal”. Demikian Andry mengungkapkan kedukaannya mendengar berita tentang meninggalnya sist Melanie. Bagaimana tidak, Andry punya hubungan persahabatan yang sangat dekat dengan almarhumah sejak tahun 2005. Bahkan pernah menjadi teman kerja di kantor yang sama.

Henry ‘Bodats the smart bastard’ Parasian, teman penulis di KHCC yang juga seorang blogger, segera mewartakan berita duka ini dalam milist resmi KHCC serta ajakannya untuk melayat ke rumah duka. Beberapa teman mengajukan kesiapannya untuk hadir dan bertemu di pitstop Kalibata. Penulis pun mengajukan ijin pada istri penulis untuk turut hadir melayat bahkan turut dalam pemakaman. Istri penulis menanyakan kondisi kesehatan penulis yang baru saja kemarin siang tiba di rumah setelah melakukan perjalanan Duo Touring ke Cirebon dan Tasikmalaya selama 3 hari dua malam. Penulis menyatakan kesehatan penulis telah fit kembali setelah 12 jam istirahat. Maka setelah mendapat restu dari istri dan berkoordinasi dengan bro Henry dan bro Andry, penulis pun mengeluarkan motor penulis, Honda New Mega Pro (HNMP) 150cc yang baru saja mengantar saya duo touring kemarin.

Dari rumah penulis di Jatiwarna-Bekasi, penulis lalu menuju pitstop yang disepakati yaitu Kalibata. Saat itu jalanan cukup lenggang karenanya penulis bisa cepat tiba di Kalibata. Bro Andry dengan Kawasaki KLX 150cc nya telah hadir lebih dulu. Tak lama kemudian Bro Henry menyusul dengan menunggangi ‘Black Bastard’, demikian dia menamai Honda Karisma 125cc nya. Setelah menunggu beberapa saat dan mendapat kepastian tidak ada lagi yang kami tunggu, kami lalu berangkat ke arah Bintaro, tempat rumah duka. Di pertengahan jalan, Bro Toto, sobat penulis di KHCC juga bergabung mengendarai Honda Karisma nya. Cukup tinggi juga solidaritas sobat penulis yang satu ini, karena dia datang jauh-jauh dari Cibinong untuk turut melayat ke rumah duka di Bintaro – Tangerang.

Perjalanan kami ternyata cukup menyita waktu karena antrean mobil yang padat menghiasi perjalanan kami. Tiba di daerah Bintaro kami mulai kebingungan karena tak satu pun dari kami pernah mengujungi kediaman almarhumah. Setelah menanyakan arah ke beberapa penduduk sekitar, kami pun bergerak ke arah perumahan Reni Jaya. Di tengah perjalanan, beberapa motor khas member komunitas bermotor mendahului kami. Lalu di beberapa persimpangan kembali beberapa motor komunitas bermotor lain bergabung sehingga secara tak langsung kami membentuk rombongan biker. Anehnya, jalan yang kami lalui sepertinya sama serta seperti mengarah ke satu tempat. Di gerbang masuk perumahan Reni Jaya Bintaro, rombongan kami berhenti. Lalu Bro Andry pun menanyakan ke salah satu barisan terdepan, apakah mereka bermaksud ke rumah sist Melanie? ternyata benar. Kami semua menuju ke rumah duka yang sama.

Pelataran Parkir Yang Penuh Oleh Biker Pengantar Sist Melanie ke Peristirahatan Terakhir

Kami lalu dipandu oleh seorang biker yang nampaknya lebih tahu seluk beluk daerah itu. Awalnya kami bingung karena rumah duka belum juga terlihat setelah sekian lama. Rupanya sang guide langsung mengajak kami menuju pemakaman umum dimana sist Melanie akan dimakamkan. Dan benar saja, di daerah Petir – Tangerang, kami tiba di sebuah pemakaman umum. Di area parkir kendaraan, beratus ratus motor khas biker terparkir seadanya karena lapangan masih berupa lapangan berumput tebal. Saya takjub dengan tingginya antusiasme para biker berbagai komunitas hadir dalam pemakaman sist Melanie. Ini menunjukkan berapa luasnya relasivitas almarhumah selama beliau hidup dan bersosialiasi di tengah-tengah masyarakat khususnya komunitas kendaraan motor roda dua.

Para Biker Mengikuti Prosesi Pemakaman Alm. Sist Melanie dengan Khidmat

Setelah memarkir motor, kami pun bergegas ke arah makam sist Melanie. Di sekitar makam, beratus-ratus orang berjubel mengelilingi makam. Mayoritas adalah para biker dari berbagai komunitas, lengkap dengan pakaian ala biker bertuliskan nama masing-masing komunitas. Mulai dari komunitas motor batangan, bebek hingga matik. Lalu komunitas berbasis milist dan internet juga hadir. Tak ketinggalan komunitas penggiat keselamatan berkendara. Bahkan saya membaca ada komunitas kendaraan roda empat, Luar biasa! Semuanya larut dalam duka yang mendalam karena rekan mereka yang terkenal dengan kesupelan dan keramahannya telah berpulang ke rumah Tuhan. Penulis sendiri tidak bisa mendekat ke dekat makam, karena rapatnya orang yang hadir sekitar makam. Hingga akhirnya pelayat mendapatkan giliran maju ke dekat makam almarhumah untuk memberikan doa pribadi masing-masing.

Penulis pun berlutut di dekat nisan almarhumah yang menandai gundukan tanah merah yang masih baru. Penulis berdoa dengan khusuk diikuti oleh beberapa orang biker lain. Suami almarhumah yang menurut kabar berada di lokasi kecelakaan tampak berdiri tak jauh dari makam dan wajahnya tampak sangat berduka. Beberapa kali dia harus disadarkan oleh beberapa rekannya agar tabah dan kuat mengikhlaskan almarhumah berpulang. Bagaimana tidak berduka karena mereka belum lama mengenyam biduk rumah tangga. Penulis pun membaca nisan kayu itu dan tersadar, almarhumah masih cukup muda untuk meninggal dunia. Lebih muda dari penulis dan meninggalkan kenangan manis bagi orang-orang terdekatnya.

Papan Kayu Nisan Alm. Sist Melly, Terlalu Muda untuk Meninggal dengan Tragis

Sist Melly, meskipun saya tidak mengenal dekat almarhumah, tapi saya sangat berduka atas kepergianmu. Salah satu pejuang keselamatan berkendara telah berpulang dengan cara yang tragis, tragis karena apa yang selama ini telah dia perjuangkan bagi orang lain agar mereka tidak terluka apalagi menelan jiwa telah menimpanya dengan cara memilukan. Semoga kepergianmu menyadarkan kita semua bahwa kecelakaan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja. Seyogyanya lah kita lebih memperhatikan keselamatan pribadi dan keselamatan orang-orang di sekitar kita.

Selamat tinggal sist Melly, doa kami semua menyertaimu!!

Jakarta, 15 Februari 2011

Comments
  1. koropedang says:

    Luar biasa perjalanan dan petualangaan wanita safety riding,

  2. Ricky L says:

    Turut berduka cita…………..

  3. andryberlianto says:

    RIP Melanie Parmawatie .. one of my greatest friends …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s