Duo Touring : Petualangan Menembus Jalan Alternatif (#3 – Habis)

Posted: February 15, 2011 in Motor, Touring
Tags: , , , , , , , ,

TRIP#3 : 05 Februari 2011, Rajapolah – Jakarta : Perjalanan Menembus Limit kesabaran dan Keberanian ……. (Habis)

BB di tengah sawah menuju Mani'is

Jam 04.10 WIB saya terjaga dari tidur saya yg cukup lelap. Sejak beberapa tahun terakhir memang secara otomatis saya terbangun setiap jam segitu. Disamping saya, Andika (KHCC #164/HSX#154) masih tertidur. Hujan semalaman ditambah hawa dingin pedesaan Rajapolah – Tasikmalaya memang sangat enak untuk tetap dibawah selimut. Tapi saya harus bergegas, karena sepagi mungkin saya ingin segera melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta setelah 2 hari 2 malam melakukan perjalanan duo touring dari Jakarta-Subang-Indramayu-Kadipaten-Majalengka-Cirebon-Kuningan-Rajapolah. Saya segera mandi (dengan air dingin yang sedingin es) dan berbenah. Saya membangunkan Andika yang tanpa dikomando segera mandi dan bergegas berbenah juga. Bapak mertua dan adik ipar saya ikut terbangun juga, mungkin terjaga karena mendengar kesibukan kami bersiap-siap.

Jam 05.00 WIB, saya dan Andika sudah siap di tunggangan masing-masing. Setelah berpamitan, motor kami pun beranjak dari halaman rumah, menuju ke jalan baru Rajapolah – Ciamis. Hari masih gelap, suhu udara 21 derajat celcius diiringi embus yang turun. Head Lamp Honda New Mega Pro 150 cc saya menembus gelapnya subuh, disusul dengan twin head lampnya Honda Supra X 125cc Andika yang dipasang OSRAM 35W all season. Awalnya, karena ingin segera tiba di Bandung, kami memacu motor masing-masing dengan cukup kencang. Tapi entah mata saya yang sudah tidak awas atau memang lampu motor saya kurang terang, berkali-kali kami terpaksa menerabas jalan yang tidak rata dan berlubang-lubang. Saya pun tersadar, berdasarkan pengalaman bertahun-tahun touring, kondisi jalan yang agak basah menyebabkan lampu motor terpantul di jalan dan tidak maksimal menerangi jalan itu. Hal ini berbeda saat jalan sedang kering. Saya pun segera mengurangi kecepatan terutama saat jalan yang tidak rata dan cukup rusak antara Rajapolah – Ciawi.

Truk terbalik di Tikungan Menanjak Lewo

Selepas Ciawi dan memasuki jalan menanjak Gentong, jalan mulai lebih mulus dan kering. Saya pun mulai menambah kecepatan dan berani memiringkan badan saat jalan tikungan diikuti Andika yang seperti tidak mau ketinggalan. Jalan yang berbelok-belok dengan tajam tapi cukup mulus dan jalanan yang masih sepi sangat mendukung kami mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Di daerah Lewo yang berbelok-belok denga tikungan yang bervariasi dengan tanjakan, kami harus mengurangi kecepatan karena sebuah truk berisi beras terbalik di sebuah tikungan tajam yang menanjak. Kami sempat mengabadikannya untuk dokumentasi. Kelak saat kami istirahat di Cileunyi, kami mendapat info dari sopir travel yang sering lewat di daerah itu bahwa kecelakaan sejenis sering terjadi, apalagi jika sopir truk tidak hapal dengan kondisi jalanan di Lewo yang berbelok-belok dan tanjakan yang panjang dan curam.

Kami lalu melanjutkan perjalanan dengan terus memacu kendaraan kami, sehingga tak heran, satu setengah jam kemudian kami sudah sampai di Nagreg. Di Nagreg, kami sempat mengambil arah ke arah jalan Nagreg lama. Tapi kemudian saya mengusulkan ke Andika agar memutar kembali untuk mengambil arah ke arah jalan Nagreg baru karena ternyata sudah dibuka untuk umum. Pemandangan indah perbukitan yang baru dipotong untuk jalan pintas ini segera menyambut kami. Jalan Nagreg baru ini ternyata masih cukup berat tanjakannya meskipun tidak separah tanjakan di jalan nagreg lama. Kira-kira di pertengahan Jalan Nagreg baru ini, kami melintasi bagian bawah sebuah jembatan baja untuk lintasan kereta api. Saat kami melintas di bawahnya, sebuah kereta api melintas di atasnya. Sayangnya kami tidak sempat mengabadikan pemandangan spektakuler ini. Sepanjang perjalanan, kami melihat bahwa masyarakat sekitar pun sudah banyak yg memanfaatkan jalan baru ini untuk lalu lintas.

Jalan Baru Nagreg. DI Latar Belakang Tampak Jembatan Baja Kereta Api

Selepas jalan Nagreg, kami tancap gas lagi melalui Cicalengka, Rancaekek dan Cileunyi. Di POM Bensin Al Ma’soem menjelang gerbang tol Padaleunyi, Andika mengisi bensin dulu sedangkan saya cukup senang dengan iritnya bensin NMP saya. Bensin NMP saya isi terakhir di Kuningan, tapi saat saya lirik indikator bensin baru turun 1 bar saja. Setelah kami ke toilet sebentar, kami segera bergerak lagi. Tapi begitu masuk Cileunyi – Bandung, kekhawatiran saya langsung terwujud : MACET!!. Kami berjalan merayap dari Cileunyi, Cinunuk, Cibiru hingga Cimahi dan Padalarang. Kami sempat makan kupat tahu di daerah bypass karena sudah kelaparan. Di daerah Padalarang,  saat kami melintas di pasarnya, kami dikagetkan dengan kotor dan semrawutnya pasar itu. Belum lagi dengan kacaunya lalu lintas di jalan itu karena banyak kendaraan melawan arah di sisi kanan dan kiri jalan. Hal ini menambah rasa capek akibat kemacetan jalan yang kami rasakan sejak Cileunyi. Perjalanan melintas Bandung benar-benar menguras kesabaran dan energi kami. Jam sudah menunjukkan pukul 9.25 saat kami melintas rel kereta api Padalarang. Jadi kurang lebih 2,5 jam kami telah berkutat dengan kemacetan kota Bandung.

Begitu lepas dari pasar Padalarang, kami seakan terlepas dari hambatan sehingga memacu kendaraan dengan cukup kencang. Jalanan cukup lenggang, ditambah aspal yang cukup halus, jalan lebar dan mayoritas menurun. Meskipun jalan berbelok-belok, tapi asyik rasanya mengembangkan kecepatan di jalan seperti ini. Sesekali kami harus menyalip truk besar yang sengaja melintasi jalan ini tanpa melalui tol Cipularang, entah dengan alasan apa. Sesekali juga kami harus menahan nafas saat anak-anak sekolah menyebrang tanpa tengok kiri dan kanan atau kambing kambing peliharaan yang melintas tanpa pengembala. Tapi secara keseluruhan, kami sangat menikmati perjalanan Padalarang menuju Purwakarta.

Kami mendapat pengalaman istimewa. Di daerah Cikalong yang sejuk, kami sempat berhenti di POM bensin dan pergi ke toilet yang terawat baik dan resik. Disana kami sempat ngobrol dengan seorang bapak tua pengendara Yamaha Mio. Usiaya mungkin di atas 60 tahunan. Dengan ramahnya dia menyapa kami yang sedang beristirahat sambil melepas protektor yang membalut lutut. Ternyata bapak ini setiap 2 minggu sekali melakukan perjalanan Bandung – Karawang melalui jalur ini karenan tuntutan pekerjaan. Rasanya tak percaya kami dan salut atas kekuatan fisik dan keberuntungan sang bapak yang masih kuat dan selamat melakukan perjalanan sejauh dan sesering itu. Padahal dia hanya menggenakan jaket tipis, sandal dan helm open face yang biasa dijual dipinggir jalan. Semoga sang Bapak selalu dalam lindungan Allah dalam perjalanan pulang dan pergi.

Menu Hidangan ala Bendungan Walahar - Kerawang

Tiba di Purwakarta, kami mengambil jalan ke Cicurug yang tembus ke Klari. Di jalur ini rombongan kami seakan bertambah 1 motor karena sebuah motor bebek yang dipasang jerigen di kiri kanannya ngotot mengikuti kecepatan kami. Bahkan motor ini ngotot juga berusaha mendahului kami di beberapa kali kesempatan. Kami beberapa kali memberikan kesempatan untuk mendahului kami, tapi memang nampaknya dia ingin mengiri kami sepanjang perjalanan ini. Saat mendekati Klari, saya sengaja belok ke arah bendungan Walahar yang dulu pernah saya kunjungi dengan beberapa teman dan mampir ke restoran yang terkenal di daerah itu. Saya ingin menjamu secara spesial Andika, sahabat saya yang telah menemani saya bertualang selama 3 hari 2 malam ini. Tanpa kehadirannya, tampaknya petualangan saya akan berbeda warna. Maka kami pun makan dengan lahap sajian yang disediakan dengan menu khas dari pepes. Setelah kenyang, enggan rasanya beranjak dari tempat itu karena ngantuk mulai menyerang.

Kami pun melanjutkan perjalanan kembali. Memasuki Cikarang, hawa macet kota Jakarta mulai terasa. Menyebabkan perasaan masih jauhnya perjalanan menuju rumah kami masing-masing. Panas, lembab dan kelelahan seakan menggayuti badan. Saya melirik di kaca spion. Saya lihat Andika pun sekilas menunjukkan perasaan yang sama. Setelah bersabar menyusuri Kalimalang dan Pekayon yang padat, kami sampai di daerah Jatiwarna. Di dekat rumah, rupanya Andika ingin segera sampai di rumah juga, karena dia tidak berhenti dan langsung tancap gas ke arah rumahnya di Jagakarsa, menyisakan lambaian tangan dan klakson panjang. Terima-kasih sobat……terima-kasih atas waktu yang disempatkan buat mengadakan perjalanan ini. Semoga menikmatinya seperti halnya saya.

Akhirnya saya tiba di rumah dengan selamat disambut senyum lega istri dan cengiran ketiga anak saya yang senang ayahnya pulang. Alhamdulillah. Waktu menunjukkan pukul 14.15 WIB. Saya lirik Trip meter New Megapro saya menunjukkan angka 625,50 KM!! Wow….perjalanan yang cukup panjang dan melelahkan. Tapi sepandan dengan pengalaman dan kenikmatan berkendara yang saya dapatkan. Satu lagi perjalanan telah dirampungkan. Semoga masih ada perjalanan-perjalanan lain untuk dikisahkan…..Insya Alloh.

SELESAI

Credit Note :

Terima-kasih saya kepada Alloh Subhanahu Wata’alla, Istri dan ketiga anakku, Andika (KHCC #164 / HSX#154), Adik saya : Dudi Dermawan beserta keluarga di Cirebon, Kakak saya : Toto Sugiharto dan keluarga di Cirebon serta Ayah mertua dan adik saya di Rajapolah – Tasikmalaya serta semua pihak yang telah membantu perjalanan kami dari Jakarta-Cirebon-Tasikmalaya-Bandung dan kembali ke Jakarta dengan selamat.

Comments
  1. choki says:

    masbro mau nanya itu tank bagnya merk apaan yah? ane kepincut tank bag yg sama persis kyk gitu buat NMP ane

  2. asep sy says:

    wah ..itu jalur saya bro…saya sering pulang ke tasik neh.. kapan kapan kita bareng..

  3. ucrit says:

    mantap bener perjalanannya bro,wah wah wah sy jd pgn ikutan ini,kapan2 aja saya ya..

  4. rherherandaru says:

    next trip, ajak ajak ya mas,😀 slm knl dr semarang.

  5. andika says:

    nice report…ko fotonya belum semua di update ke FB…thanks kang atas touringnya, thanks juga buat keluarganya kang one yang udah bersedia direpotkan…ditunggu perjalanan berikutnya…mudah2an bisa ikut…

    • Sama-sama sob. Saya juga makasih ndik mau nemenin perjalanan kemarin. Engga kebayang kalo kemarin dijalanin sendirian😀. Lagian engga ada yang moto’in…heheheh. Foto tidak diupload semua ke FB karena sesuatu hal. Japri aja ya ndik kalo mau. Insya Alloh akan ada petualangan-petualangan berikutnya…..

  6. udah tuh lex. Waktu loe arahin kursor ke foto, pasti ada keterangan. Tapi mungkin lebih baik di tulis di bawahnya ya😀. Thanks for input sob!!

  7. alexsetia says:

    fotonya mohon dikasih keterangan sepelrunya yah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s