Duo Touring : Petualangan Menembus Jalan Alternatif (#2)

Posted: February 15, 2011 in Motor, Touring
Tags: , , , , , , , ,

TRIP#2 : 04 Februari 2011, Cirebon – Rajapolah : Perjalanan Menembus ‘Gunung Berkabut’

Perjalanan Jakarta – Cirebon pada tanggal 03 Februari 2011 melalui jalur tengah (Subang, Kadipaten, Majalengka) telah dilalui dengan selamat. Pengalaman baru pun tertoreh kembali dalam sejumlah perjalanan saya. Tentunya setiap perjalanan mempunyai kenangan tersendiri dan berbeda antara satu dengan yang lainnya karena saya selalu membuatnya istimewa.

si BB (Black Pathfinder) di Pom Bensin Kuningan


Hari Jumat tanggal 04 Februari 2011, saya pun bersiap-siap untuk perjalanan pulang. Bangun subuh dengan kondisi segar dan fresh, saya mandi dan sholat subuh. Setelah membangunkan Bro Andika (KHCC #164/HSX#154), teman seperjalanan saya yang tampaknya dapat tidur dengan cukup lelap, kami berjalan-jalan keliling sekitar rumah Dudi, rumah adik saya yang menyediakan tempat menginap selama saya di Cirebon. Setelah cukup puas, kami pun kembali ke rumah untuk mempersiapkan kendaraan kami (bahkan sempat mencuci motor masing-masing), dilanjutkan dengan mandi dan sarapan sederhana yang cukup enak.

Andika pun sempat mencuci motornya….tradisi KHCC saat istirahat touring

Untuk perjalanan pulang ke Jakarta, saya merencanakan mengambil jalur yang agak extrim. Selain tidak melalui jalur yang sama saat berangkat (via Subang dan Kadipaten), tetapi saya bermaksud memutar ke arah Tasikmalaya sehingga jarak tempuh pun akan lebih jauh. Tapi sebelum ke berangkat Tasikmalaya, saya bermaksud mengunjungi rumah kakak saya di daerah Klayan-Cirebon Utara dan ternyata Andika pun berencana mengunjungi familinya di daerah perumahan Pilang. Semua rencana kami tidak bisa terlaksana jika saya tidak mengambil cuti dari kantor saya. Adapun teman perjalanan saya, Andika, mempunyai waktu yang senggang untuk menemani saya karena saat ini dia sedang menikmati liburan menjelang pengangkatannya menjadi PNS di lingkungan Departemen Pertanian – Jakarta.

Setelah mengemas semua peralatan dan menikmati sarapan yang terasa lezat, kami lalu berpamitan ke keluarga Dudi yang kami tumpangi selama kami menginap di Cirebon. Saya sempat memperhatikan agak lama dan terharu ke si Bohay, motor Honda Karisma X 125cc yang sekarang akan menetap di Cirebon. Telah lebih dari 5 tahun si Bohay menemani saya di Jakarta tapi sekarang harus menemani Dudi. Dudi yang lebih tahu seluk beluk Cirebon, mengantar kami berangkat ke perumahan Pilang dan dilanjutkan ke Klayan, Cirebon Utara. Tak terasa, kunjungan ke 2 tempat itu menyita waktu, karena akhirnya kami pun sholat jumat di Klayan sekaligus men’jama (memajukan) sholat Ashar. Setelah berpamitan ke kakak saya, kami pun berangkat dan mengambil arah jalan ke Kuningan.

Nasi Empal Gentong khas Cirebon


 Sempat mengisi perut dulu dengan Nasi Empal Gentong khas Cirebon di warung pinggir jalan Ciperna dan mengambil sandal Andika yang tertinggal di rumah Dudi, kami pun mulai menyusuri jalur Cirebon – Kuningan. Waktu jam digital yang ada di dashboard speedo meter New Mega Pro 150cc saya menunjukkan jam 14.15 WIB saat kami berangkat. Awan menutupi sinar matahari sehingga hawa terasa lebih sejuk. Saya melirik ke jam tangan CASIO Protector saya dan menekan tombol Barometer. Grafiknya menunjukkan positif tanda cuaca akan cerah dan bersuhu 30 derajat celcius. Mudah-mudahan cuaca di jalan sesuai dengan yang diperkirakan. Bismillah dan kami pun berangkat.

Kondisi lalu lintas siang itu cukup lancar dengan kondisi jalan cukup lebar dan mulus. Sesekali jalan bergelombang sehingga kami harus berhati-hati. Dua tiga kali kami harus mendahului bis atau truk yang dikendarai dengan kecepatan tinggi dan sekali saya harus mengerem mendadak gara-gara sebuah mobil Toyota Kijang dari arah berlawanan tiba-tiba membelok ke POM bensin di seberangnya. Motor saya kembali harus ‘ngepot’ karena rem saya tarik dengan mendadak. Alhamdulillah tidak sampai terjatuh.

Kami melalui kota Kuningan dengan cukup lancar, dilanjutkan ke arah Cikijing. Tak jauh melalui kota Kuningan, jalan mulai berbelok-belok dengan tajam dengan jurang di sebelah kanan dan kiri jalan. Asyik juga mengembangkan kecepatan di jalan berbelok-belok itu sambil mematangkan teknik memiringkan badan ala pembalap MotorGP. Saya lihat melalui kaca spion, Andika dengan motor Supra X 125cc nya dengan luwes mengikuti irama kecepatan motor saya meski box GIVI E46 nemplok di motornya. Nampaknya dia pun menikmati sensasi berkendara seperti itu.

Jalan baru Waduk Dharma. Tampak Di Latar Belakang Jalan Lama Waduk Dharma

Tak lama kemudian kami sampai ke lokasi wisata Waduk Darma. Sudah lama saya tidak melalui daerah ini sehingga saya tidak tahu kalau jalan di lokasi wisata itu telah dibuat jalan tembusan baru. Jalan tembusan baru tidak melalui pinggir waduk seperti jalan sebelumnya, tapi melipir ke arah bawahnya. Jalan lama oleh Pemda setempat dijadikan jalan wisata Waduk Darma, sedangkan jalan umum melalui jalan tembusan baru itu. Indahnya pemandangan di jalan baru sempat kami abadkan dengan mengambil beberapa foto, dilanjutkan dengan mengisi bensin di POM bensin yang terawat baik, bersih dan asri tak jauh dari Waduk Darma itu. Takjub juga saya melihat tersedianya Pertamax di POM bensin itu padahal termasuk di daerah pedalaman. Tapi kami tak bisa berlama-lama dan segera melanjutkan perjalanan ke arah Cikijing.

Sampai di kota kecamatan Cikijing, kami mengambil arah ke arah Ciamis. Saya mulai mengurangi kecepatan karena saya tidak mau melewati jalan tembus yang dulu sering saya lewati dalam perjalanan dari Tasikmalaya – Cirebon atau sebaliknya. Saya tidak tahu nama resmi jalan tembus itu, tapi orang-orang sekitar menyebutnya sebagai jalur ‘Mani’is’ yang berarti kurang lebih ‘dingin’ atau ‘sepi’ dalam bahasa sunda. Sudah beberapa kali saya melewati jalur ini untuk memotong jarak tempuh Cirebon – Tasikmalaya atau sebaliknya. Karena jika melalui jalur yang lebih ‘wajar’ harus memutar dulu melalui Kawali hingga bertemu di jalan raya Tasikmalaya – Ciamis. Tapi dengan mengambil jalur Mani’is ini, jarak dan waktu tempuh bisa dipangkas hingga setengahnya, meskipun harus melalui kondisi jalan yang extrim karena memotong puncak gunung!

Akhirnya, jalan masuk menuju ke Jalur Mani’is terlihat. Ternyata jalur ini sekarang terlihat lebih ramai dari terakhir saya melaluinya, karena banyak kendaraan yang lalu lalang keluar masuk jalur ini. Kami lalu membelokkan motor kami dan memasuki jalan ini. Belum lama kami memasukinya, kami harus berhenti untuk mengenakan rain coat karena uap air dari hujan yang turun di daerah pegunungan yang akan kami lalui sudah menerpa kami. Awan mendung kelabu yang mengarah ke badai hujan pun bergulung-gulung terlihat dari kejauhan dengan hembusan angin yang sangat kencang. Dengan agak bergegas, kami mengenakan jas hujan. Dengan mengambil pengalaman sebelumnya, saya kali ini melepas dulu sepatu dan protektor lutut Fox Raptor saya saat mengenakan jas hujan. Selanjutnya memasang protektor lutut itu di luar rain coat saya. Hal ini terbukti membuat saya lebih nyaman dalam perjalanan. Dalam kondisi mulai extrim ini, anehnya kami masih sempat mengabadikan foto kami melalui camera 5 MP Blackberry saya! Tetep Narsis!

Andika sibuk memasang rain coat menjelang Mani’is
Siap ‘bertempur’ menjelang puncak Mani’is

Setelah mengeset GPS di BB saya, kami pun melanjutkan perjalanan lagi. Kondisi jalan mulai memburuk, sempit dan mulai menanjak dengan extrim. Mesin motor mulai bekerja keras mengikuti jalur menanjak di depannya. Kabut pun mulai turun dan hawa langsung terasa dingin. Mungkin ini sebabnya daerah ini disebut ‘Mani’is’. Tebalnya kabut memaksa kami harus lebih berhati-hati ditambah hujan mulai deras turun. Head lamp yang dari sejak awal perjalanan kami nyalakan cukup membantu menembus kabut dan hujan itu. Sesekali kami harus berhadapan dengan kendaraan dari arah yang berlawanan yang muncul tiba-tiba dari balik kabut. Hal ini terkadang mengejutkan kami. Kami terus menaiki tanjakan bersudut curam dengan hati-hati. Untungnya motor yang kami pakai masih keluaran baru sehingga tidak harus susah payah memaksa mesin bekerja. Tak seperti dulu, jumlah rumah di pinggir kiri kanan jalan mulai padat dengan rumah-rumah baru. Bahkan warung nasi yang cukup terkenal di dekat puncak gunung mani’is yang dulunya dibuat seadanya dengan bambu dan dinding gedeg, sekarang telah rapi dicat. Tapi kami tidak ada waktu untuk berhenti di warung itu, kami terus melanjutkan perjalanan hingga ke puncak gunung mani’is. Meskipun hujan berhenti, sayangnya kabut di area puncak masih terlalu tebal. Biasanya jika cuaca cerah, gunung Ciremai di seberang gunung mani’is ini bisa terlihat dengan jelas dan sangat indah.

Kabut Menyelubungi Puncak Mani’is

Setelah mengambil beberapa foto, kami mulai menuruni jalan gunung mani’is. Dan kami pun harus terkejut…..jalanan hancur parah dengan kondisi jalan menurun tajam. Beberapa kali, ban motor kami harus slip tergelincir karena licin dan banyaknya batu di tengah jalan. Kami sangat tidak merekomendasikan melewati jalur ini jika malam hari. Selain sangat gelap, licin dan jalan hancur, dari segi keamanan pun sangat tidak menjamin. Untungnya kami melaluinya di siang hari seperti saat itu. Alhamdulillah kami bisa melalui jalan ini dengan selamat meski sempat dikagetkan dengan segerombolan pemuda yang berkerumun di pinggir jalan yang hancur. Saya berprasangka baik bahwa kehadiran mereka untuk membantu para pengendara mobil yang terperangkap jalan yang jelek itu. Wallohualam! Di tengah perjalanan, kami kembali harus terkejut. Kali ini adalah pengendara Yamaha Byson berplat nomor Jakarta yang berjalan seruntulan menurui jalan yang licin dan jelek. Dengan provokatif, dia meraung-raungkan gas motornya disamping kami.  Tapi kami tidak terpancing dengan sikapnya yang arogan dan tetap dengan hati-hati menuruni jalan yang licin.

Perjalanan menuju jalan Panjalu

Akhirnya kami sampai di daerah Sukamantri yang berakhir ke jalan raya Panjalu – Cihaurbeuti. Kondisi jalan ini seperti langit dan bumi dengan kondisi jalan sebelumnya. Jalan Panjalu – Cihaurbeuti sangat mulus dan cukup lebar sehingga kami bisa mengembangkan kecepatan hingga 80 kmh di tengah-tengah jalan yang licin akibat guyuran hujan. Kami terus berjalan beriringan karena jalan sangat mulus dan lalu lintas sangat lancar. Alhamdulillah kami pun sampai di persimpangan jalan baru Cihaurbeuti dan terus ke arah kota kecamatan Rajapolah, tempat kami akan beristirahat sebentar di rumah mertua saya. Jam di Dashboard motor saya menunjukkan pukul 17.10 WIB saat kami menyentuh halaman rumah mertua saya, rumah yang dulu disinggahi rekan-rekan dari KHCC saat mengadakan perjalanan ke Galunggung awal 2010 lalu. Awalnya kami hanya akan singgah sebentar, tapi bapak mertua saya menyarankan untuk menginap di Rajapolah karena hujan turun semakin deras, apalagi kondisi gelap karena hari telah mulai malam. Akhirnya demi alasan keamanan, kami memutuskan untuk menginap.

Makan malam yang disuguhkan meskipun sederhana khas pedesaan tetapi rasanya sangat khas sunda dan enak. Bahkan Andika harus mengakui bahwa sambal yang dia makan buatan istri adik ipar saya sangat istimewa rasanya. Setelah kenyang dan ngobrol sebentar, kami memutuskan segera istirahat karena rencananya besok subuh kami harus berangkat ke Bandung.

Menjelang tidur, saya masih membayangkan perjalanan bermotor antara Cirebon dan Rajapolah yang telah dilalui dengan selamat, Alhamdulillah. Perjalanan ini pendek namun berkesan karena penuh dengan petualangan, mulai dari menembus kabut di puncak gunung Mani’is hingga merasakan kecepatan tinggi di jalur Kuningan – Cikijing dan jalur basah karena hujan tapi mulus di  Panjalu – Cihaurbeuti. Saya rasa Andika pun puas dengan perjalanan kali ini, karena variatifnya perjalanan yang kami jalani. Rasanya saya ingin mengajak rekan-rekan saya yang lain untuk mencoba jalur ini suatu saat nanti. Ya…suatu saat nanti.

Dan tak lama kemudian saya pun terlelap tidur tanpa mimpi……

Next :

TRIP#3 : 05 Februari 2011, Rajapolah – Jakarta : Perjalanan Menembus Limit kesabaran dan Keberanian …….(Habis)

Comments
  1. grian says:

    ok tu pengalamannya….sy pernah sendiriin ngikuti gps sama ..boleh dong gan update jalannya yg skarang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s