Adventouride 2 : Ride To The Harmony, Touring Teluk Kiluan – Lampung Selatan #2 of 4

Posted: Juli 9, 2011 in Petualangan, Touring
Tag:, , , ,
 

Bakaheuni – Teluk Kiluan, 14 Mei 2011.

Seseorang terasa menggoyang-goyang badan penulis. Dengan susah payah penulis membuka kelopak mata yang rasanya belum lama terpejam. Langit-langit yang pendek langsung terlihat di depan mata. Sejenak penulis lupa dimana penulis berada ketika seorang petugas Ferry berteriak-teriak memberitahu penumpang yang kebanyakan masih terlelap bahwa Ferry akan segera bersandar di Pelabuhan Bakaheuni. Wahh….akhirnya penulis tersadar bahwa saat itu kami sedang di atas kapal ferry menuju Bakaheuni – Lampung (Artikel sebelumnya selengkapnya baca di sini). Penulis melirik ke jam digital Casio Protrek PRG-110Y yang melingkar di pergelangan tangan kiri. Waktu menunjukkan jam 05.05. Whuahhh…..istirahat kurang lebih 2 jam rasanya tidak terasa. Kami harus segera berkemas dan bersiap-siap.

Yes, We are KHCC!
Yes, We are KHCC!
Fajar merekah di Pelabuhan Bakaheuni - Lampung
Fajar merekah di Pelabuhan Bakaheuni – Lampung
Berpose sesaat sebelum turun dari Ferry

Berpose sesaat sebelum turun dari Ferry

Sesaat selepas jam 05.25, untuk pertama kalinya roda kendaraan kami menapakkan jejaknya di pelataran beton Pelabuhan Bakaheuni. Inilah untuk pertama kalinya juga penulis menapakkan kaki di pulau Andalas. Matahari di sisi timur terus beranjak ke atas. Deburan ombak yang tenang menghantam beton pelabuhan. Di kejauhan, tinggi di atas bukit, bangunan besar yang berarsitektur unik tampak terlihat megah dan menonjol seolah mengucapkan selamat datang di tanah Lampung. Setelah beberapa kali menarik nafas panjang merasakan segarnya udara pagi di daerah pesisir Bakaheuni, penulis segera mengontak teman-teman lain untuk bersiap-siap melanjutkan perjalanan dan mengatur group riding. Sempat mampir sebentar untuk mengisi bahan bakar di POM bensin Pertamina yang pertama kami temui, kami melanjutkan perjalanan ke arah Bandar Lampung. GPS kembali penulis nyalakan untuk menentukan arah.

Ready to ride, selepas pelabuhan Bakaheuni
Ready to ride, selepas pelabuhan Bakaheuni

Kondisi jalan Bakaheuni – Bandar Lampung cukup mulus sehingga perjalanan kami bisa berjalan cukup cepat dan lancar. Pemandangan yang diwarnai pepohonan khas pesisir mendominasi kiri kanan jalan. Tantangan sesungguhnya adalah saat kami harus melalui  jejeran truk-truk pengangkut yang seringkali berkonvoi hingga 3-4 truk. Kami harus benar-benar hati-hati dan waspada saat mendahului iring-iringan kendaraan raksasa itu karena dari arah yang berlawanan cukup ramai juga kendaraan yang juga didominasi truk pengangkut. Dengan bergiliran, kami over take truk-truk tersebut dengan pernuh perhitungan. Beberapa kali penulis mundur ke belakang rombongan untuk memastikan kerapihan dan keutuhan sekaligus memperingatkan anggota tim untuk tetap waspada.

Break time. Restorant baru & fresh! yang dijuluki restorant "Begadang 4" :D
Break time. Restorant baru & fresh! yang dijuluki restorant “Begadang 4″ :D
Masih di restoran 'Begadang 4'

Masih di restoran 'Begadang 4'

Jam 09.15 kami berisitirahat sebentar di sebuah restoran yang baru dibangun. Fasilitasnya sangat lengkap dan bersih. Begitu parkir, kami langsung mencari tempat untuk duduk. Dan seperti biasa, bro Rory menghilang entah kemana :D. Kami berhenti selain untuk sarapan karena sejak turun dari Ferry kami belum sarapan, kami pun memanfaatkan saat istirahat ini untuk menggosok gigi, cuci muka dan tak kalah penting yaitu menumpang charge HP dan GPS. Bagi penulis, kenyataan belum terpasangnya power supply untuk GPS di NMP cukup merepotkan. Hal ini menjadi PR bagi penulis untuk kelak segera memasangnya di motor NMP.

Kami lalu melanjutkan perjalanan. Menjelang pukul 12.20, kami mulai memasuki kota Bandar Lampung. Ternyata Bro Rory yang juga Ketum KHCC telah mengontak temannya dari Honda Karisma Lampung untuk menjemput, sehingga ketika sesosok pengendara bermotor Honda Karisma memberikan tanda klakson untuk mengikuti mereka, kami mau tak mau mengikuti tuan rumah menuju lapangan di tengah kota Bandar Lampung. Akhirnya sekalian saja kami break dulu dan juga bertemu dengan pak Dirham, pengelola tempat wisata di Teluk Kiluan, yang kebetulan sedang berada di Bandar Lampung juga.

Satu jam kemudian, kami memutuskan untuk segera berangkat ke Teluk Kiluan karena kami tidak mau kemalaman di jalan, apalagi di daerah yang kami tidak kenal. Dengan diantar kenalan baru kami dari Honda Karisma Lampung, kami diantar menuju jalan Laksamana Martadinata yang merupakan jalan ke arah Teluk Kiluan. Disana kami merapat ke POM Bensin terakhir dan mengisi tangki motor full. Menurut info, POM Bensin pertamina ini adalah POM Bensin terakhir yang akan kami jumpai. Di POM Bensin ini, kami sempat bertegur sapa dengan rombongan Pulsarian dari Jakarta.

Sempat berfoto di tengah hadangan jalan yang rusak berat
Sempat berfoto di tengah hadangan jalan yang rusak berat

Kami lalu berpamitan ke teman baru kami dan mulai menyusuri jalan hingga bertemu jalan Pasar Cimeng – Sidodadi, lalu Pantai Mutun serta jalan Sidodadi – Ketapang yang merupakan jalan menuju kota kecamatan Padang Cermin. Memasuki kota kecamatan Padang Cermin, rumah khas lampung mulai sering terlihat. Rumah panggung dari kayu ini terlihat alami dibanding dengan yang sering penulis lihat di TMII Jakarta :D.

Rumah adat Lampung
Rumah adat Lampung

Awalnya kondisi jalan cukup mulus, melewati beberapa punggung bukit, hutan yang sudah mulai gundul, serta pertambakan dan  pemandangan pantai yang berair biru cerah yang tiba-tiba saja muncul di akhir tanjakan membuat efek ‘Ci-Luk-Ba’ yang menawan. Namun setelah melalui pantai wisata Pantai Clara/pantai Mutun, kota kecamatan Padang Cermin dan Markas Marinir, jalanan mulai rusak parah. Hampir tidak ada jalan aspal yang kami temui. Semuanya jalanan tanah berbatu yang benar-benar mengocok perut. Dari total jalan yang dilalui mulai dari Bandar Lampung hingga Teluk Kiluan, kondisi jalan adalah 30% : 70%, dimana 70% nya adalah jalanan rusak.

Kondisi jalanan ke Teluk Kiluan yang sedang diperbaiki
Kondisi jalanan ke Teluk Kiluan yang sedang diperbaiki

Di beberapa tempat selepas markas Marinir, terlihat mulai ada perbaikan jalan berupa perkerasan yang ditambahi aspal. Di beberapa tempat juga, kondisi jalan malah semakin parah dengan jurang mengangga di sisi kanan atau kirinya. Mendekati tujuan, terlihat suatu hal yang menakjubkan. Kami berada di atas bukit yang tinggi dengan pemandangan terbuka langsung ke arah teluk Kiluan. Dibawah kami terlihat jalan satu-satunya menuju ke Teluk Kiluan berupa turunan tajam (kemiringan sekitar 45 derajat!) yang untungnya sudah diperkuat dengan beton (tidak terbayang bagaimana jalan beton itu bisa dibuat dengan kondisi alam seperti itu). Ini lah pintu gerbang menuju Teluk Kiluan! Dari puncak turunan jalan ini, bisa terlihat pantai teluk kiluan dan pulau Kelapa yang akan menjadi home base kami di Teluk Kiluan. Sangat Indah! Tapi turunan ini begitu tajamnya sehingga sist Fay tidak berani mengendarai motornya menuruni turunan ini. Akhirnya sist Fay dibonceng di motor penulis hingga di bawah dan penulis naik kembali untuk menjemput motor sist fay…..fiuhhh, lumayan berolahraga!

Salah satu pemandangan 'ciluk-ba' yang ditemukan di perjalanan ke Teluk Kiluan
Salah satu pemandangan ‘ciluk-ba’ yang ditemukan di perjalanan ke Teluk Kiluan

 

Membelah hutan dan gunung Lampung Selatan
Membelah hutan dan gunung Lampung Selatan
My Black Pathfinder, with Indonesia Ocean panorama as background
My Black Pathfinder, with Indonesia Ocean panorama as background
Dermaga kecil yang romantis di pantai Samudra Indonesia
Dermaga kecil yang romantis di pantai Samudra Indonesia
Tanjakan yang curam  (untung kita engga usah melewati jalan ini :D)
Tanjakan yang curam (untung kita engga usah melewati jalan ini :D)
Turunan tajam menuju Teluk Kiluan

Turunan tajam menuju Teluk Kiluan

Setelah menuruni jalan beton itu,kami melalui  jalanan Desa Kiluan yang terlihat baru direnovasi. Mulus dan rapi. Beberapa rumah terlihat di sepanjang jalan desa itu dengan jarak yang agak berjauhan. Yang cukup mencengangkan adalah terlihat beberapa rumah yang desain arsitekturnya terasa asing terlihat disana. Mungkin rumah dengan desain seperti itu hanya akan penulis temui di pulau Bali dan sekitarnya. Ya, ternyata di Desa Kiluan cukup banyak penduduknya yang menganut agama Hindu. Itu bisa dilihat dari gapura di depan pagar masuk, tempat sesaji dan sembahyang (canang) di halaman depan, bahkan ada juga pura (tempat ibadah) dengan arsitektur yang indah. Benar-benar tidak menyangka melihat hal ini ada di Kiluan. Ini benar-benar unik!

Teluk Kiluan dari kejauhan! terlihat Pulau Kelapa tempat kami akan menginap
Teluk Kiluan dari kejauhan! terlihat Pulau Kelapa tempat kami akan menginap
Menyusuri Jalan Desa Kiluan yang mulus setelah seharian melalui jalan yang rusak

Menyusuri Jalan Desa Kiluan yang mulus setelah seharian melalui jalan yang rusak

Pura penganut agama Hindu di Desa Kiluan

Pura penganut agama Hindu di Desa Kiluan

Kami berjalan terus hingga sepertinya jalan terputus di sebuah bekas sungai yang tak berair. Tapi terlihat di seberang masih ada jalan lain. Kami menuruni sungai itu dan berjalan hingga sampai di sebuah warung kelontong yang cukup besar di pinggir pantai. Itu lah tempat kami akan menitipkan motor karena karena kami harus meneruskan perjalanan ke Pulau Kelapa dengan menggunakan speed boat…… Alhamdulillah kami sampai juga. Teluk Kiluan, here we come!

Bersambung…

HH

About these ads
Komentar
  1. [...] hendrawan 'ONE' hadiyat Harmonisasi keluarga, petualangan dan arsitektur BerandaAbout RSS ← Adventouride 2 : Ride To The Harmony, Touring Teluk Kiluan – Lampung Selatan #2 of&nbsp… [...]

  2. Ganang Iskandardinata mengatakan:

    Weewww,,,
    jalannanya seru tuh Om, motor ane sepertinya harus dilatih dulu :)

  3. Andry mengatakan:

    good report ……..

  4. agus mengatakan:

    Ulasan dan dokumentasinya……..Cakep banget!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s