Resensi Arsitektur : Prasarana Pada Gedung Rumah Sakit Yang Terlupakan

Posted: Maret 8, 2011 in Arsitektur, Resensi
Tag:, , , , , , ,

Bagi sebuah firma konsultan perencana arsitektur, merencanakan dan merancang sebuah rumah sakit merupakan sebuah tantangan  tersendiri sekaligus tugas yang menarik. Selain rumit karena kompleksnya permasalahan dalam merencanakan bangunan jenis ini, juga karena dalam perancangannya berkaitan langsung dengan kesehatan dan nyawa manusia. Sehingga tidak heran dalam proses merencanakan dan merancang sebuah rumah sakit, apalagi jika rumah sakit yang akan dibangun berupa gedung bertingkat tinggi (karenakan terbatasnya lahan yang ada) akan melibatkan banyak disiplin ilmu. Konsultan perencana dan perancang rumah sakit harus benar-benar jeli dan mengerti alur kerja rumah sakit yang akan dirancangnya, sehingga saat operasional, rumah sakit itu tidak menemui kendala yang dapat membahayakan kesehatan dan jiwa pasiennya.

Untuk itu lah saya tergerak untuk membuat tulisan ini. Dengan tidak bermaksud untuk mendiskreditkan suatu pihak tertentu, tapi lebih sekedar memberikan review dan masukan agar dalam pembangunan gedung rumah sakit berikutnya lebih memperhatikan hal-hal, yang menurut saya sangat penting dan terabaikan.

Gedung RSUD Budhi Asih yang megah

Gedung RSUD Budhi Asih yang megah

Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Budhi Asih adalah sebuah rumah sakit yang dikelola pemerintah daerah setempat yang berlokasi di Jalan Dewi Sartika – Jakarta Timur. Rumah sakit yang menempati gedung megah berlantai 11 ini selesai dibangun tahun 2008 dan merupakan gedung baru karena bangunan lama yang terletak agak kebagian dalam dari jalan yang sama sudah tidak dapat menampung jumlah pasien, seiring peningkatan kelasnya menjadi rumah sakit umum daerah.

Gedung Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih yang didesain dengan gaya arsitektur modern yang ringkas dan effesien ini dalam beberapa hal direncanakan dan dirancang dengan cukup baik dan teliti sesuai peruntukannya yaitu gedung rumah sakit. Hal ini dapat dilihat secara jelas dengan terakomodirnya perencanaan tapak bangunan terhadap lingkungan sekitar serta dasar-dasar perencanaan, seperti misalnya :

  • Porte Cochere (Main Entry) gedung ini tidak dari arah jalan Dewi Sartika yang ramai, tapi dari arah jalan sekunder di sampingnya, sehingga meminimalisir terjadinya kemacetan di jalan Dewi Sartika.
  • Hadapan gedung sebagian besar searah dengan arah matahari sehingga bukaan-bukaan jendela di ruangan-ruangan rawat inap tidak panas tersorot matahari secara langsung.
  • Desain organisasi ruang rumah sakit cukup efesien dan efektif meski masih di beberapa tempat masih kurang penempatan signage / petunjuk arah sehingga terkadang membingungkan pengunjung.
  • Lahan rumah sakit yang terbatas disiasati dengan penataan landscape dan hardscape yang cukup baik serta pembuatan lahan parkir mobil/motor di area basement.
  • Penggunaan dan pemilihan material bangunan yang cukup baik serta pengadaan alat-alat maintenance facade luar pada gedung tingkat tinggi seperti gondola sehingga memudahkan maintenance, terutama maintenance dinding luar/facade bangunan.

Namun dari hal-hal tersebut di atas, point-point yang justru mendasar sepertinya terlupakan. Padahal point-point ini sangat penting dan menentukan kualitas pelayanan rumah sakit yang tentunya diharapkan dapat meningkatkan kualitas kesehatan dan menjadi kebanggaan masyarakat Jakarta Timur ini.

Adapun point-point penting ini diantaranya :

1.   Tidak adanya elefator (lift) khusus barang (lift service).

Hal ini cukup mengherankan karena penggunaan lift barang/lift service di gedung bertingkat tinggi (terutama gedung di atas 4 lantai) adalah sesuatu keharusan. Terlebih di sebuah rumah sakit. Rumah Sakit Umum Daerah Budhi Asih dilayani oleh 2 passenger lift (lift penumpang)  berkapasitas ± 12 orang dan 2 lift khusus pasien berkapasitas 1 tempat tidur dorong atau setara dengan ± 15 orang penumpang. Karena daya tampung lift penumpang tidak mencukupi terlebih saat jam-jam besuk, seringkali lift khusus pasien ini pun digunakan untuk lift penumpang.

Yang membuat saya harus mengerenyitkan dahi adalah seringnya lift khusus pasien digunakan untuk lift pengangkut barang, seperti mengangkut makanan pasien, troley barang-barang rumah sakit (tabung gas dan alat-alat medis lain) dan yang paling mengherankan adalah, lift ini berfungsi juga untuk mengangkut box sampah, baik sampah organik, sampah non organik maupun sampah medis. Hal ini sungguh kontradiktif dengan peran rumah sakit yang mengutamakan kesehatan dan higienitas dalam setiap sendi-sendi operasionalnya.

Saya pernah melihat sendiri seorang petugas kebersihan mendorong masuk box sampah yang penuh dengan sampah dan berbau tidak

Dan box sampah pun masuk ke lift pasien karena tak tersedianya lift barang

Dan box sampah pun masuk ke lift pasien karena tak tersedianya lift barang

sedap kedalam lift khusus pasien. Saat itu masih dalam jam operasional rumah sakit, dimana di dalam lift sudah terdapat pasien dalam kursi roda serta beberapa orang penumpang lift lainnya. Sungguh tak bisa dibayangkan bagaimana hal ini berlangsung, karena bisa saja kuman-kuman yang ada dalam box sampah menyebar kedalam lift serta tentu saja dapat terhirup orang-orang di dalamnya. Tentunya hal di atas tak perlu terjadi jika pada saat perencanaan di desain pula lift service/lift barang yang benar-benar terpisah lokasinya.

2.   Tidak adanya escalator (Tangga berjalan) dari lantai 1 ke lantai 2.

Hal ini sangat penting karena di lantai 2 rumah sakit ini terletak seluruh ruang-ruang poli pemeriksaan dokter. Jadi setiap pengunjung yang bermaksud untuk mengecek kesehatannya harus naik dari lantai 1 ke lantai 2. Masalahnya adalah, access dari lantai 1 ke lantai 2 selain menggunakan 2 lift penumpang/lift pasien tadi, juga bisa menggunakan tangga konvensional/tangga manual yang cukup tinggi dan panjang, bukan tangga berjalan (escalator). Saat volume pengguna lift penumpang sedang sedikit dan bagi orang yang sehat atau masih muda, hal ini tidak menjadi masalah. Tapi saat pengunjung sedang membludak (dan ini sering terjadi) serta untuk pasien atau untuk pengunjung berusia lanjut, ini menjadi masalah.

Saya sering melihat seorang bapak/ibu yang sudah cukup renta harus turun tertatih-tatih di tangga yang panjang ini dipapah oleh anak/cucunya. Cukup dimaklumi mengapa di bapak/ibu ini harus menggunakan sarana tangga ini karena volume pengguna lift penumpang / lift pasien sangat tinggi sehingga terkadang orang sudah kesal menunggu gilirannya dan lebih memilih menggunakan tangga.

3.  Fasilitas toilet umum banyak yang rusak dan tidak terpelihara.

Sepertinya masalah pemeliharaan fasilitas toilet umum menjadi suatu pekerjaan rumah yang tidak pernah selesai di seluruh gedung-gedung pemerintahan. Jarang sekali saya bisa melihat gedung-gedung pemerintahan memiliki toilet umum yang bersih, layak dan berfungsi dengan baik. Jadi tak heran jika di rumah sakit ini pun fasilitas toiletnya kotor, tidak terawat (dan maaf) menjijikkan. Untungnya toilet pasien di kamar-kamar rawat inap di rumah sakit ini masih cukup bersih dan layak digunakan.

4.  Akses masuk/keluar ke/dari basement yang berbahaya.

Rumah sakit ini memiliki 2 basement yang berfungsi untuk parkir kendaraan (mobil dan motor) serta beberapa fasilitas penunjang rumah sakit lainnya. Di Basementm yang saya amati adalah berbahayanya akses keluar masuk kendaraan dari/menuju basement melalui ramp karena tidak adanya median (pembatas) pada ramp/jalan masuk ke basement ini. Jadi peristiwa mobil/motor yang nyelonong ke jalur berlawanan bisa saja terjadi, apalagi lantai ramp kondisinya cukup licin. Hal ini tentunya sangat membahayakan kendaraan yang naik/turun ke basement ini. Lalu hal ini diperparah lagi dengan digunakannya sebagian akses ramp untuk parkir mobil (entah kenapa diijinkan diparkir disitu) sehingga kendaraan yang naik dan turun ke basement harus extra hati-hati.

Demikian beberapa temuan-temuan yang menurut saya cukup penting dan harus lebih diperhatikan dalam pembangunan gedung rumah sakit sekelas rumah sakit umum daerah. Semoga di perencanaan berikutnya, Pihak Pemerintah dalam hal ini Dinas Kesehatan dan konsultan perencana dan perancang rumah sakit lebih jeli dalam membangun sebuah gedung rumah sakit. Selain pembangunannya menggunakan dana yang dihimpun dari rakyat, tentunya fungsi rumah sakit untuk melayani dan meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di sekitarnya dapat tercapai.

Jakarta, 22 Februari 2011.

About these ads
Komentar
  1. Adnan mengatakan:

    Wuidiihhh..kren om postingannya,..Tapi ko tntang rumh sakit om,..apa krna gra2 kmrn2 ke rumh sakit..hehe…

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s